Sunday, November 7, 2010

Sekilas Mengenai Mistis

Sewaktu saya menjalani kuliah tingkat akhir, saya mempunyai ketertarikan khusus dengan tegangan antara modernitas dengan tradisi. Hal ini berawal dari perjalanan pendidikan saya yang berasal dari kriya, dimana banyak karyanya mengambil unsur-unsur rupa tradisional sebagai penggayaan dalam karya-karyanya. Hal ini mengundang kegundahan tersendiri buat saya, apakah memang penerapan kekayaan Nusantara pada akhirnya memang berujung pada penggayaan.Pada dasarnya perkembangan penerapan unsur-unsur Nusantara berlangsung berbeda-beda dalam bergantung pada konteks disiplin yang hendak dituju. Akan tetapi terdapat kecenderungan yang menarik, bahwa upaya revitalisasi unsur-unsur Nusantara (terutama dalam konteks seni rupa, desain, arsitektur) secara umum ditandai oleh kemunculan ornamentasi sebagai ciri utama, ini dapat disimak pada karya-karya arsitektur Wolff Schoemaker, kecenderungan seni rupa pada kurun waktu 60-70an, dan masih banyak lagi.

Permasalahan revitalisasi unsur Nusantara dalam konteks modern terkadang mengundang polemik dalam perkembangannya. “Terkadang” artinya tidak semua usaha revitalisasi mengundang polemik atau diskursus. Ini bisa diperiksa dengan menelusuri bagaimana revitalisasi tersebut dipahami dalam konteks disiplinnya. Misalnya saja, kerajinan. Dalam konteks “kerajinan” kita akan kesulitan untuk mendapati sebuah dokumentasi mengenai adanya diskursus yang panjang lantaran konsep “kerajinan” muncul seiring dengan usaha pemerintah kolonial Belanda untuk mencari potensi roda ekonomi seiring kondisi malaise pada awal abad ke-19. Saya kemudian berspekulasi, bahwa inilah yang nantinya memisahkan “kerajinan” dari unsur kehidupan tradisi lainnya. Seperti kita ketahui, bahwa masyarakat Indonesia tidak memisahkan kegiatan keseharianya dari nilai-nilai transenden yang secara umum mengutamakan keseimbangan manusia dengan unsur alam lainnya. Kemudian pola ini muncul kembali dengan tumbuhnya kecenderungan mencari unsur kelokalan atau tradisi dalam desain modern, dengan berbagai pemicunya.

Pada zaman Orde Baru, penggunaan identitas rupa tradisional begitu digalakkan, sebaliknya dengan perkembangan pada zaman Soekarno dimana dalam penggunaan identitas rupa lebih banyak meminjam dari perkembangan di Barat untuk menegaskan kesejajarannya dengan bangsa-bangsa Barat. Sementara, pada zaman reformasi pola perkembangan revitalisasi ini selain bersifat reaktif, misalnya boom batik dipengaruhi oleh klaim batik oleh Malaysia (yang hingga kini belum jelas duduk masalahnya, apakah yang diklaim adalah batik atau batik Malaysia?), hal ini juga dipengaruhi menguatnya sektor industri kreatif sebagai motor ekonomi di berbagai negara. Jakob Soemardjo, seorang budayawan, membagi masyarakat Indonesia menjadi dua, yakni “Indonesia-lama” dan “Indonesia-baru”. Masyarakat “Indonesia-lama” merupakan masyarakat yang menganut tradisi Nusantara masa lampau yang kini masyarakatnya terpacak di lingkungan perkampungan suku. Masyarakat “Indonesia-lama” tersingkir oleh masyarakat “Indonesia-baru” yang kedudukannya kuat karena perkembangan politik Indonesia modern. Masyarakat “Indonesia-baru” ini bertolak dari tradisi Barat yang masuk di kota-kota yang merupakan melting pot dari bangsa Indonesia.

Tradisi budaya bangsa Indonesia-lama kemudian kesulitan untuk berkembang lantaran tidak dapat menyambungkan relevansi terapannya dalam konteks kekinian. Sebabnya? Penurunan nilai-nilai Indonesia lama dilakukan dengan tradisi lisan dan adat istiadat yang dibungkus oleh cerita dan alasannya yang sekilas tampaknya tidak masuk akal. Kondisi ini semakin akut, mengingat bahwa masyarakat Indonesia-baru pun tidak sepenuhnya Barat, berbeda dengan masyarakat Barat yang memang tumbuh di Barat dengan konstruksi masyarakat dan sejarah yang sudah panjang ceritanya. Kemudian masyarakat Indonesia-lama makin mengonservasi dirinya di tengah perkembangan dunia dan masyarakat Indonesia-baru begitu gagap untuk menerapkan bentuk budaya “Indonesia-lama” lama, Barat, maupun dalam usaha mengawinkan keduanya. Hal ini memang tidak terlepas dari betapa masyarakat Indonesia-baru (termasuk saya) tidak menguasai konsep Indonesia-lama dan tidak sepenuhnya Barat. Hal ini dapat kita lihat langsung pada fenomena masyarakat kita, misalnya begitu awetnya film-film dan tayangan TV berbau mistis di Indonesia-menunjukkan ketertarikan masyarakat kita mengenai lingkungan yang tidak dimengerti masih besar.

Maka, pembacaan nilai atau konsep tradisi suku Nusantara telah menjadi kebutuhan. Pasalnya, di tengah globalisasi yang kian kencang, justru kebutuhan akan pemahaman nilai lokal semakin diperlukan. Usaha pembacaan ini kemudian semakin penting lantaran minimnya penelitian atau bisa jadi kurangnya publikasi akan penelitian tersebut. Jika pun ada buku yang ditulis atau penelitian, maka yang sering ditemui oleh kita adalah antropolog, filolog, orientalis, yang ironisnya merupakan orang Barat (terlepas dari kemungkinan bahwa tidak selalu orang Barat berpikir untuk menguasai Timur). Kemudian ini yang membuat sebagian dari kita beranggapan bahwa sesungguhnya bangsa Baratlah yang mempunyai pengetahuan akan nilai-nilai Timur. Saya rasa inilah saatnya untuk kembali memeriksa kondisi yang terasa taken for granted untuk kita. Tentunya kita harus menyadari betapa kompleksnya budaya kita yang terdiri dari suku bangsa dan alam yang amat kaya. Nantinya bisa jadi terdapat pertanyaan-pertanyaan dasar yang menarik, misalnya bagaimana konsep politik dalam konsep Nusantara atau lebih ekstrim bagaimana konsep Indonesia jika menengok konsep Nusantara pada masa kerajaan masa lampau? Dengan penelitian tersebut, yang paling penting adalah memahami konsep yang sebenarnya diterapkan oleh bangsa ini pada masa lampau, kemudian memahami diskontinuitas yang berlangsung dalam perhubungannya dengan budaya kolonial, lantas dapat menjawab permasalahan kekinian dengan sudut pandang yang benar.

Semoga! (ada yang memulai penelitian-penelitian tersebut)

No comments:

Post a Comment