Friday, March 14, 2008

PLTSa?

Sebenarnya cukup lama saya ingin posting perihal ini. Ya, mengenai Pembangkit Listrik Tenaga Sampah ini (harus dijelasin neh, gara2 Mbak Icha)

Mulanya, saya cuek dengan permasalahan ini. Tiba-tiba sekali, tidak ada hujan tidak ada petir, muncul demonstrasi penduduk Gedebage di gerbang depan Kampus ITB. Saya ingat sekali, di satu sisi, saya marah kepada demonstran, menurut saya, ITB tidak pantas dijelek-jelekkan secara frontal begitu (walaupun sebagai civitas akademika, saya sering mengkritik kebijakan kampus), di sisi lain, saya menjadi mempertanyakan fungsi ITB di dalam persoalan PLTsa ini. Demikian, persoalan ini menjadi angin lalu untuk saya, saya memilih untuk tidak memikirkannya. Hal ini mungkin dikarenakan saya yang makin jarang aktif di PSIK sehingga saya tidak begitu update tentang duduk persoalan ini. Pendalaman saya tentang permasalahan ini singkat saja:

1. Apakah birokrasi Jawa Barat dapat menjamin bahwa pembangunan PLTSa sudah aman dan memenuhi standar produk pembangunan? Salah-salah PLTSa itu dibuat asal, dan malah membuat masalah lagi. Kalau tembok PLTSa jebol gara-gara sekrupnya dikorup kan geger juga

2. Pertimbangkan topografi Bandung yang berupa cekungan, jika dibangun PLTSa di Bandung (Gedebage) bukankah asap yang dihasilkan akan berputar-putar saja? Jika demikian kondisinya, akan sangat berbahaya bagi penduduk Bandung, lebih bijak jika dicari alternatif yang lain

Tetapi, saya mulai terusik lagi dengan munculnya spanduk aneh yang bernada sama dengan jumlah yang besar di seantero Bandung. Isinya serupa: Mendukung Pembangunan PLTsa. Entahlah, nama forum masyarakat yang aneh-aneh itu muncul begitu saja-mungkin ada, tapi saya belum pernah dengar sebelumnya. Spanduk-spanduk ini aneh sekali: sangat seragam. Fontnya, kualitas spanduknya. Saya menduga ini muncul dari pro-PLTSa, terlepas kedudukannya benar atau salah. Tapi pikiran nakal saya muncul: jika benar, untuk apa membuat propaganda seperti itu? cukup saja buat artikel yang ilmiah dan bertanggungjawab, lalu buat press release di media.

Di sisi lain, saya juga kembali mempertanyakan fungsi intelektual ITB, yang menurut saya dapat berfungsi sebagai "orang-orang yang memperdalam permasalahan secara objektif tanpa bertendensi kekuasaan". Jika PLTSa ini memang salah, saya heran mengapa ITB tidak membuat pernyataan sekadar untuk tidak merekomendasikan pembangunan PLTSa. Namun, saya belum pernah berdiskusi langsung dengan Ari Darmawan Pasek, orang ITB yang melakukan AMDAL PLTSa, soalnya konon dia sangat mendukung pembangunan PLTSa. Jika PLTSa ini baik dan benar adanya, mengapa ITB atau Pemda tidak melakukan kampanye pencerdasan yang bersifat dua arah sekadar untuk mensosialisasikannya kepada masyarakat?

Apakah ITB hanya berkutat di permasalahan tubuhnya sendiri? apakah permasalahan Ganesha 10 hanya terbatas oleh teralis-teralis besi disekitaran Kampus? Atau jangan-jangan ITB lagi kepingin keciprat rejeki proyekan dari Pemda lalu cari jalan aman?

entahlah, (Maybe) Only God Knows Why

2 comments:

  1. jaman sekarang orang udah gak tau malu, bikin tindakan manupulatif aja terang2an, yah terlepas dari maksudnya baik atau buruk

    ReplyDelete
  2. PLTSa itu opo toh???? Pembangkit Listrik Tenaga Supranatural Aiiiihhh...
    buset dah..kalo posting mbok yah yg lgkp..spy pembaca gak tulalit

    ReplyDelete