Showing posts with label wejangan. Show all posts
Showing posts with label wejangan. Show all posts

Saturday, April 25, 2009

Juni-Juli-Agustus (Bagian Tiga)

Gila yah. Baru nulis dua aja capeknyo. Huehahahha.
Tapi ya sambil ngisi waktu luang yang sebenarnya dihasilkan dari penundaan tugas, ya boleh juga ya bikin ginian lagi. Mengingatnya lumayan sulit ternyata, ternyata lebih mudah menulis pengalaman TPB ya..heueheuheu.
Oke, Juni-Juli-Agustus di tahun 2007, adalah sebuah titik yang penting, dalam banyak hal. Hal ini disebabkan angkatan 2005 sudah mulai memegang tampuk kepemimpinan dalam banyak pos. Keterlibatan saya muncul ketika saya masuk ke dalam Kementerian PSDM, saat itu posisi saya adalah Manajer SDM.
Akhirnya dimulai juga iya, seperti tahun sebelumnya, mulai diadakan open recruitment Ketua OSKM 2007 (ya, Anda tidak salah baca, namanya OSKM). Ohya saya ingat, embel-embel OSKMnya begini, "OSKM atau apapun namanya nanti". Memang OSKM'06 kemaren membuat orang tidak begitu mensakralkan lagi nama OSKM.
Entah ada apa saat itu, yang jelas kondisi kampus tidak begitu seantusias tahun kemarin. Banyak kasus yang mengiringi, sebelum OSKM 2007 ini dimulai, sehingga perhatian mungkin banyak teralihkan. Seperti kasus pelarangan parkir di dalam Kampus, kasus kecelakaan pasca Inisiasi KMSR, dan lain-lain. Ini menurut saya, membuat perhatian Kampus lebih banyak tercurah kepada kasus-kasus yang lain, yang tentu lebih panas.
Singkat cerita, akhirnya pemilihan ketua OSKM 2007 itu datang. Calon ketua waktu itu hanya satu, saking cuma satu doang, akhirnya dibuat forum bersama himpunan-himpunan, biar ada calon lain atau engga. Nah, akhirnya di suatu ruangan di pojokan kampus belakang yang katanya menyeramkan, dikenal dengan ruangan Kongres, dimulailah penilaian Ketua OSKM 2007. Saya lupa komposisinya saat itu. Ada petinggi Kabinet KM serta orang yang terlibat OSKM 2006 kemarin. Dengan calonnya yang masih satu. Iya, masih satu.
Sebenarnya penilaian ini sedikit nekat juga. Biasanya penilaian Ketua OSKM dilakukan bersama elemen kampus yang lain, tapi tampaknya, demi efektifitas (dan mungkin karena para pejabat Kabinet lumayan menokoh), akhirnya penilaian itu dilakukan oleh Kabinet saja. Kalo g salah sih, sebenarnya muncul calon satu lagi, tapi entah kenapa dia tidak mengajukan diri, terdengar juga nada sumbang bahwa alasan si calon satu lagi tidak jadi mengajukan diri dikarenakan suatu aktivitas berinisial depan "K", berinisial belakang "P".
Akhirnya sang ketua pun terpilih.
Iya terpilih.
Terpilih kok belum heboh ya?
kok kampus "krik krik" banget sih?
loh perasaan udah mau lewat kok sepi aja ya?
nama ganti ke PMB (Penyambutan Mahasiswa Baru) perasaan ga heboh-heboh amat ya?
Hoya ngomong-ngomong soal PMB, sebenarnya sempat diwacanakan nama pengganti OSKM. Karena engga ketemu-ketemu namanya jadi PMB saja. Pas ketuanya ditanya, kok ga seru banget namanya, wajahnya langsung muram, "yaudahlah namanya ini aja, pusing." Begitulah kira-kira.
Iya, kampus sepi akan dinamisasi atas apapun. Aneh banget. Padahal kondisi Panitia bukannya baik. Infrastruktur panitia belum beres, danus tidak jalan, proposal belum jadi, panitia lapangan sangat minim (diklat pertama yang hadir tidak lebih dari 50 orang).
Tetapi kampus tetap sepi. Sebenarnya bibit-bibit kejanggalan mulai naik ke permukaan ketika IMG (Ikatan Mahasiswa Geodesi) merasa aneh dengan cara kerja yang dilakukan oleh Panitia. Pasalnya, Panitia telah menetapkan bentuk acara dari OSKM ini. Dengan Open House Unit yang digabungkan ke dalam panitia PMB, maka panitia saat itu pikir jika Unit dibikinin Open House, Himpunan juga dong!makanya muncul konsep Open House Himpunan (yang disingkat jadi OHH).
Jika menilik sistematika berfikir yang sistematis (halah!) maka tentunya semua bermula dengan apa yang dimiliki oleh Panitia atau dengan bahasa umumnya adalah materi dari PMB itu sendiri, sesuai dengan arahan dari Kabinet dan cita-cita sang ketua itu sendiri.
Sebenarnya arahan dari Kabinet itu sederhana yaitu "terjadinya interaksi antar angkatan senior dengan angkatan junior" dan "kampus rame". Hal ini tidak dipahami juga oleh Panitia, walaupun telah diterangkan berkali-kali. Dan permasalahannya sederhana: rupa-rupanya Kabinet tidak menuliskan secara jelas arahannya, dan itu selalu membuat perbedaan sudut pandang dalam melihat kedudukan "PMB" ini seperti apa di tubuh panitia itu sendiri.
Sebenarnya, rektorat sendiri telah mempunyai acara yang fix, sehingga panita hanya bisa mengutak-ngatik saja keberadaan panitia disitu, bahkan sampai membuat PMB yang sebulan. Permasalahan ini membuat Panitia jadi kelimpungan dan tentunya ini menjadi kontraproduktif. Kondisi ini saya sebut sebagai "kondisi yang menyeramkan". Permasalahan "acara muncul duluan sebelum materi" juga muncul ketika rektorat di akhir Mei pun sudah mengeluarkan draft acara yang sudah tinggal disahkan saja.
Akibatnya, waktu interaksi dengan senior (yang dimanifestasikan sebagai Panitia) sangat sedikit. Walhasil, 2007 banyak ketiduran di Sabuga. Kesimpulannya, sistematika yang kacau dan gerak yang lambat adalah penyebab yang dominan dari keseluruhan permasalahan PMB 2007. Permasalahan ini berbuntut ke banyak hal.
Akibatnya pula, Panitia banyak melakukan akrobat, Panitia pun mengalami dilema antara memilih yang baik atau yang benar. Yang Baik adalah Panitia merespon permasalahan di depan mata (permasalahan teknis, seperti dana, perizinan), Yang Benar adalah Panitia menjalani proses yang wajar dengan sistematika yang sedianya dijalani. Akhirnya Panitia pun memilih Yang Baik. Akhirnya pembenaran sering terjadi dimana-mana.
Proses ini memakan ongkos yang banyak. Ongkos tidak selalu duit, bisa saja keringat dan air mata. Pergerakan Panitia lambat dan rupanya ada bagian di Panitia yang ternyata lebih solid daripada keseluruhan Panitia. Bahkan sudah mempunyai kendali kepanitiaan sendiri. Bagian dari Panitia tersebut adalah Panitia OHU.
Iya, Open House Unit. Mereka telah berlari sedemikian jauh. Sehingga, Panitia (ya, saya tentunya) akhirnya tersentak dan terbangun.
Betul, mereka berlari begitu jauh, begitu maju.
Ini tidak bisa dibiarkan, Panitia masih terbelakang, dan mereka jauh di depan
Lho?bukannya mereka bagian dari PMB?
Sudah selayaknya mereka menunggu langkah,
Panitia Inti harus memaksa mereka menunggu langkah Panitia Inti yang lamban.
Bahkan mencopoti elemen-elemen panitia OHU itu sendiri. Sampai tenaga kerja. Akhirnya, satu hal yang saya mengerti: Panitia PMB ini tidak mengerti OHU, dan merampas banyak hal dari mereka. Banyak yang bermasalah dengan langkah panitia OHU, termasuk saya (ohya, saat itu, saya menjadi staf danlap,hehehehe), tetapi ini dapat terjadi jika Panitia Inti saja bergerak terlalu lamban dan tidak berpikir luas dan luwes. Akhirnya kebersatuan OSKM dan OHU didalam PMB 2007 adalah kepura-puraan bagi saya. Bagi saya ini seperti obesitas. Panitia terlalu gemuk. Jika benar-benar satu maka tidak ada lagi OSKM ataupun OHU, yang ada adalah PMB, itu saja. Namun konsekuensinya, panitia PMB tentu harus merancang sistem panitia dan perangkatnya yang bisa menopang besarnya acara yang akan dibuat. Termasuk nuansa kerja. Bayangkan perangkat panitia OHU ditarik menjadi panitia lapangan, bayangkan juga panitia OHU diharuskan ikut mentoring. Aneh rasanya, kalau materi adalah rancangan pemikiran dari acara, bukankan orang-orang yang terlibat didalamnya pun sedang merancang acara yang merupakan buah dari pepohonan yang biasa disebut 'materi'? Permasalahan nilai dan pembelajaran yang didapat, saya kira semua orang punya porsi subjektif yang besar untuk menerima apa yang didapat dari proses PMB ini, bukannya dengan memaksa orang untuk menghapal dengan draft materi.
Belum lagi permasalahan OHH yang begitu bermasalah dalam kelahirannya, dan pada akhirnya berbuah pada bentuk yang tidak diduga: panel-panel beserta foto himpunan, beserta bendera dan panji himpunan. Itu saja.
Dalam segi konsep acara, PMB memang banyak melakukan percobaan. Seperti yang satu ini: PMB sepanjang 1 bulan. Bentuknya memang bermacam-macam per harinya, tetapi kendalinya menjadi permasalahan. Bentuknya sendiri lebih banyak seperti mentoring dan tidak ada pengumpulan massa yang besar.
Masalahnya, tidak ada yang bisa menjamin konsistensi panitia, apalagi konsistensi anak baru. Saya sendiri tidak yakin acara yang melibatkan setidaknya lebih dari 3000 orang akan efektif berjalan selama satu bulan. Pasti ada degradasi kualitas dari panitia maupun peserta. Engga usah ngomongin tatib kelompok yang sulit mengatur anak-anaknya atau diri sendiri untuk datang dalam setiap pertemuan. Permasalahan acara seperti ini adalah permasalahan bagaimana kita dapat mensituasikan kondisi kampus agar kondusif dan terjaga. Apakah kita bisa mensituasikan kampus masih beraura PMB selama satu bulan?dengan segala kuliahnya?dengan anak baru yang sudah mulai mengenal ruang kampus?
Tetapi dengan segala kekurangannya, saya salut dengan langkah Panitia yang berani dan 'keluar dari tradisi'.
Permasalahan anak-anak lapangan sendiri juga ada. Yaitu, anak-anak yang sudah lupa bagaimana membuat acara sebesar PMB, aspek-aspek mana yang harus dikuasai. Ada juga aspek profesionalitas. Aspek pengetahuan akan deskripsi kerja, seperti fungsi korlap dan danlap. Tetapi soliditas dari panitia lapangan perlu diacungi jempol.
Tanpa mengabaikan kinerja divisi lain, entah kenapa saya melihat keamanan alias Raka Prakasa sebagai divisi yang paling kompak dibandingkan dengan yang lain. Tetapi saya paling menikmati waktu tolol bersama para pendiklat taplok dan medik. Rasanya segar kalo udah bercanda ama mereka. Eh engga segar deng, tepatnya adalah, garing. Hahaha.
Ada juga permasalahan yang lumayan aneh, ketika muncul 'divisi bayangan' yang tugasnya sebagai tatib disiplin. Karena munculnya dadakan, kinerjanya pun aneh. Saya pun punya dosa sebagai pembuat deskripsi kerja. Disini ada faktor respek, dan saya tidak cukup hebat dalam hal itu. Ini terkait juga dengan pemilihan staf danlap, yang secara versi banyak ceritanya, pokonya kontestan akhirnya tersisa saya, Candra, Tepe, dan Uci.
Kejadian paling parah adalah pada saat pemulangan hari kedua yang molor sampai beberapa jam, ini permasalahannya ada pada kami yang kurang tanggap melihat persoalan lapangan. Acara rektorat pun banyak yang harus selesai jam setengah 6.
Fuh, capek juga ngetiknya. Apa segini aja ya?eahehahehaheahea. Duh, sebenarnya saya mengalami short-term memory juga, jadi pasti banyak detail yang lupa saya ketik di sini. Bahkan, mungkin dalam ceritera ini banyak yang harus dikonfirmasi ulang. Tetapi, mengutip kata Hanief: "Yang penting multiply effect-nya, ahehaheahehahe"
AHEY!

Wednesday, April 8, 2009

Juni-Juli-Agustus (bagian kedua)

Hahahhaa, akhirnya saya tulis juga tahap yang berikutnya. Entah kenapa lumayan sulit juga mengingat keseluruhan apa yang saya alami saat itu. Yang jelas, konsentrasi saya terpecah dua, jadi panitia lapangan OSKM 2006 juga menjadi panitia Pasar Seni ITB 2006 yang udah mepet banget waktu itu.

OSKM 2005 telah memincut saya untuk jadi panitia lapangan. Iya, saya ingin terlibat dalam kepanitiaan OSKM. Kendati, sebenarnya banyak yang menganjurkan untuk lebih memilih terlibat dalam kepanitiaan OHU. Tapi sederhana, karena kakak saya lebih aktif di OHU, makanya saya memilih OSKM. Supaya rame, sudut pandang yang diambil beda-beda.

Nah, saya ingat sekali, waktu itu kami (panitia lapangan-red) mengalami diklat terpusat, ya diklat pemberian materi yang nantinya akan diberikan kepada angkatan 2006. Biasa, standarnya kita dikumpulkan pagi-pagi oleh panitia pendiklat yang dipimpin oleh danlap. Lalu ada pemberian materi dan tugas, dan terus menerus seperti itu. Ada juga yang menarik seperti simulasi atau bikin drama (kelompok saya menang looooh...trus hadiahnya sekalung permen, yang ngalungin SHANAAA...huehahahahahahahah). Ya begitulah ketawa-ketiwi dan ceria.

Tibalah saat pemilihan divisi lapangan. Saya ingat sekali waktu ketua kelompok dikumpulkan oleh danlap, ada kordiv keamanan juga. Dia bilang pokoknya keamanan berguna banget, bisa tau tempat colokan, wc di seluruh kampus. Dengan pertimbangan tersebut, tentu saja, saya memilih keamanan. Hahahah.

Divisi Kemanan saat itu dapat dikatakan divisi yang paling gaul. Rata-rata isinya anak gaul, anak basketlah kalo ga mau dibilang anak gaul. Heheheh. Sedangkan saya apa? apalah awak ini....Ya, begitulah, ada juga sebuah klan yang isinya orang yang paling eksis dari yang eksis. Maksudnya? menurut saya karena orang-orangnya cukup gaul, ya keamanan terdiri dari orang yang eksis, nah dari sekumpulan orang yang eksis itu ada orang yang paling eksis. Orang-orang inilah yang akhirnya menamakan mereka Geng Tongkeng, entah, tapi belakangan ini saya sudah tidak mendengar eksistensi mereka.

Saat yang paling kontroversial saat itu adalah pemilihan kordiv dan perangkat inti keamanan. Hem, aneh, kenapa dari satu golongan yang sama?? tapi apalah, toh, saya menganggap mereka orang yang cukup vokal dalam setiap diklat. Sayapun terpilih dari korlap (kalo bahasa sekarang-danpas!). Tapi, saya merasa kemampuan dalam mengorlap perlu dipertanyakan. Sampai sekarang. Entah mengapa, apakah bisa karena faktor suka dan tidak suka? bisa sangat jadi, tapi jawaban saya tetap: ENTAHLAH. Dan entah mengapa dilingkungan korlap pun saya merasa terkucilkan. Ada beberapa kesalahan mendasar yang kerap saya lakukan memang, dan saya merasa ini berlanjut sampai waktu ke depan. Hahahahahah. Pernah ada suatu kejadian juga, kami para korlap dikumpulkan oleh kordiv keamanan. Katanya, ada mosi tidak percaya (tepatnya: tidak suka) terhadap korlap dan perangkat yang terpilih. Tapi, masalah ini pun hanyut dalam waktu kedepan, karena masalah-masalah yang dihadapi OSKM 2006 ternyata lebih pelik ketimbang masalah gaul-menggauli ini.

Permasalahan OSKM 2006 dalam pandangan mata saya, tidak semata-mata permasalahan dalam tubuh rektorat saja, tetapi juga permasalahan dari mahasiswanya sendiri. Dalam beberapa curi-dengar, saya mendengar bahwa ternyata ketidakpercayaan pada panitia adalah persoalan tidak ditepatinya janjian pertemuan yang akan diadakan, entah benar entah salah. Yang jelas nama OSKM sendiri sudah bermasalah di mata rektorat. ITB hari ini adalah ITB yang berusaha membangun citra (entah mengapa dari logo yang mirip Starbucks itu, citraan ITB sedang dihancurleburkan). OS yang citranya melekat dengan kekerasan dilarang keras oleh rektorat. Padahal citra OSKM itu hendak diubah sejak 2005. Walaupun saya dengar OSKM 2000 sudah bikin spanduk "OSKM 2000 ANTI KEKERASAN" di dekat Boromeus.

Yang jelas nama "OS-KM" inilah yang bermasalah menurut rektorat. Saat itu, pendirian para petinggi KM (ketua himpunan, Kabinet, unit??mereka punya cerita sendiri nanti) menolak sikap rektorat. Ini berimbas pada kegiatan rutin mahasiswa di awal kurikulum. Yaitu Open House Unit. Karena meminta kebulatan sikap mahasiswa, ada forum yang mengumpulkan baik ketua himpunan maupun unit agar unit-unit mau mengundurkan diri dari OHU. Atau OHU yang jelas didukung oleh rektorat ini diminta untuk tidak diisi oleh unit-unit. Ini mengakibatkan respon yang negatif dari panitia OHU dan unit-unit. Salah satu ketua unit bahkan dengan lantangnya bilang para ketua himpunan mempolitisir unit. Tetapi sebagai bentuk keprihatinan, panitia OHU menggelar pameran kecil yang berisi foto-foto OSKM masa ke masa. Dalam keberjalanannya OSKM 2006 dan OHU 2006 berjalan sendiri-sendiri.

Dalam pandangan saya, untung juga OHU masih bisa dilaksanakan. Saat itu TPB 2006 belum masuk program studi, alias masih dalam lingkungan fakultas, hanya beberapa himpunan saja yang sudah dapat memegang TPBnya. Maka, yang bisa dilakukan adalah dipegang dahulu oleh unit-unit. Program seperti ini pernah berjalan, namanya PPLK (Program Pengenalan Lingkungan Kampus). Indepedensi mahasiswa? hm, belakangan ini, saya berfikir pentingnya kita untuk duduk bersama seluruh civitas academica tentang posisi Keluarga Mahasiswa sekarang ini. Menurut saya sih, yang asik mah interdepedensi...heuahahaha...ah tapi saya tidak ingin membahas hal ini di posting yang sekarang.

Bagaimana dengan 2006? OSKM akhirnya hanya dilaksanakan dua hari saja. Mulanya, Pra-OSKM 2006 mulai dengan kemunculan panitia di Sabuga untuk membagi kelompok, juga dengan pemutaran video. Tetapi rektorat secara berkala selalu membagikan kertas kepada 2006 mengenai pengumuman ilegalnya OSKM dan yang mengikutinya akan diancap Drop Out (D.O). Ketika panitia memanfaatkan sesi pengenalan KM di Sabuga, akhirnya direm langsung oleh Bu Ciptati di depan panggung. Iya, langsung di depan 2006, konflik rektorat-mahasiswa, diketengahkan. Akhirnya 2006 keluar tanpa dibagikan kelompok, serta mereka semua, pulang. Panitia hanya bisa mengiringi mereka dengan lagu "Kampusku", di sepanjang jalan sampai mulut gerbang Sabuga.

Pada saat-saat kritis tersebut, saya nilai muncul tiga golongan di angkatan 2006, yaitu:
1. Tidak ikut dan tidak berniat sama sekali;
2. berniat ikut OSKM 2006, tetapi takut;
3. Ikut OSKM.

Pokoknya usaha untuk "membujuk" 2006 ikut OSKM terus berlangsung. Entah perasaan 2006 saat itu, takut? sangat mungkin!!hehahahaa. Pembukaan OSKM berlangsung pagi hari sebelum OHU, jumlahnya saya lupa 100-an lah. Setelah OSKM, 2006 langsung mengikuti OHU.

Keesokan harinya, kampus ditutup bersih. Di dalam kampus pun terdapat coretan dinding, tetapi saya lupa isinya apa. Sampai sekitar jam 9an, 2006 golongan 2 ini melaksanakan aksi solidaritas sebagai dukungan secara moral kepada panitia dan peserta OSKM 2006, di depan gerbang kampus. Sementara itu ketua himpunan pun berkumpul dan mengadakan aksi orasi selain menyambut aksi 2006 ini, juga menyatakan dukungan terhadap OSKM 2006. Beberapa panitia pun menyambut di gerbang depan kampus. Suasananya? mirip-miriplah kayak ada perang aja. Tegang sekali. Kampus ditutup, orasi "bertebaran" dimana-mana. Setelah itu, para panitia, peserta, dan beberapa simpatisan dari himpunan mengadakan bakti sosial di sekitaran kampus.

Akhirnya, penutupan OSKM 2006 ITB berlangsung. Ada kejadian cukup kocak ketika danlap utama meneriakkan "SIAPA KALIAAAN???" kepada 2006. Biasanya ketika ditanya "SIAPA KALIAAAAN???" jawabnya adalah angkatan dari peserta tersebut. Misalnya, "SIAPA KALIAAAAN?" jawabnya. "2005!". Tetapi karena dalam pelaksanaan OSKM yang sangat minim tersebut, hal itu tidak dapat dilaksanakan. Setelah penutupan, panitia-massa kampus-peserta mengadakan aksi terobos kampus yang sebenarnya telah diakali sebelumnya bersama pihak keamanan, karena toh tidak ada OSKM disitu, yang ada hanya aksi jalan saja. Padahal, menurut saya, bisa saja loh semua massa yang ratusan itu dimobilisasi untuk demonstrasi rektorat. Hehehe. Entah mengapa hal itu tidak terjadi. Heahaahhaah.

Kesimpulannya, pada penampakannya OSKM 2006 menjadi sangat heroik. Inilah OSKM terakhir yang saya dengar. Hahahahaha. Tapi kan jaman terus berguliiir....

Sunday, February 22, 2009

Asal Usul Aktivis

Hahaha...ini artikel saya dapat dari sini. Konyol sih, tapi menggambarkan sekali. Layak dibaca, bagi yang merasa dirinya "aktivis"!!

Oleh Ariel Heryanto

Seorang sahabat saya pernah menulis artikel tentang gerakan politik mahasiswa. Membaca tulisan itu saya jadi geli. Sebab, di situ aktivis mahasiswa digambarkan serba hebat dan berlebihan, sebagai gerakan moral dan intelektual yang kritis.

Ironisnya, tulisan seperti itu layak dipertanyakan secara moral maupun intelektual. Secara moral ada masalah, sebab penulisnya termasuk bagian dari kelompok yang dibanggakan. Ia dikenal sebagai sosok mantan aktivis mahasiswa. Ada juga masalah secara intelektual, sebab muluk-muluknya penggambaran sepihak para aktivis mahasiswa itu lebih mirip komik, propaganda penguasa otoriter, atau sinetron cengeng ketimbang ulasan kritis seorang cendekiawan.

Semua itu terjadi di akhir tahun 1980an dan awal 1990an. Tragis, dan bukannya ironis atau komedis, bila 20 tahun kemudian ada yang mencoba membangkitkan kembali dongeng tentang gerakan mahasiswa tanpa berniat melucu.

Dua dekade lalu, artikel koran yang meromantisir gerakan mahasiswa bisa dimaafkan. Waktu itu banyak mahasiswa digebugi tentara dan dipenjara karena berdemonstrasi. Gerakan mahasiswa menjadi primadona dalam ruang publik Orde Baru. Mereka sosok tunggal yang boleh dan mau menyuarakan kritik sosial dan keresahan masyarakat pinggiran. Nyaris semua saluran komunikasi publik yang lain dipangkas militer dan birokrasi negara.

Partai politik dikebiri habis-habisan. DPR menjalankan ibadah 5D: datang, duduk, diam, dengar, duit. Media massa dibredel, kecuali bila bersedia menjadi pengecer propaganda penguasa sambil belajar menjadi industri nasional. Organisasi kemasyarakatan hanya boleh menjadi alat-bantu program Pembangunan pemerintah.

Dalam situasi itu aktivis mahasiswa menjadi semacam petugas PPPK (pertolongan pertama pada kecelakaan). Mereka sedikit menjalankan peran yang seharusnya dijalankan parlemen yakni berdebat politik. Mereka sedikit menjalankan peran partai politik, yakni belajar berorganisasi, menggugat pemerintah, menebar janji perubahan, dan memobilisir massa. Mereka sedikit menjalankan peran yang seharusnya dikerjakan media massa: memberitakan kabar yang disensor penguasa lewat buletin, selebaran gelap, stiker, dan puisi.

Semua peran itu serba sedikit, tanggung, tapi penuh romantisme. Semua itu–seperti PPPK–lebih baik ada sedikit, ketimbang tidak ada sama sekali. Gerakan mahasiswa ibarat orang yang kebetulan membawa lampu senter di malam hari di saat listrik di seluruh kota padam.

Susahnya, tidak banyak di antara aktivis yang cukup kritis untuk memahami keterbatasan peran mereka dan situasi darurat yang melahirkan peran itu. Karena usia yang muda, sering dikejar tentara, dan dipahlawankan dalam artikel seperti yang ditulis sobat saya, ego para aktivis ini sering melembung kebablasan.

Bukan saja mereka gagal memahami jurang perbedaan di antara kerdilnya kemampuan nyata dan dongeng tentang hebatnya peran mereka sebagai agen perubahan sejarah. Mereka bahkan gagal memahami bahwa peran kerdil yang mereka miliki itu pun tak lebih dari hadiah istimewa yang dipinjamkan penguasa militer Orde Baru. Hitung-hitung, ini imbalan atas jasa gerakan mahasiswa 1966 menghantar militer menduduki istana.

Bagi penguasa waktu itu, aktivis mahasiswa ibaratnya "anak-anak" kandung, keponakan, calon menantu sendiri dalam keluarga besar politik negara Orde Baru. Mereka kadang-kadang menjengkelkan, tetapi tidak berbahaya. Tidak mengherankan sesudah lulus kuliah, sebagian dari aktivis mahasiswa bergabung dalam jaringan politik yang pernah dikritiknya.

Kasta dan nasib para aktivis mahasiswa itu berbeda jauh dari gerakan kaum muda dan mahasiswa yang berkait atau dikait-kaitkan dengan aliran radikal Islam, komunisme, atau separatisme di Maluku, Papua, Timor Timur, dan Aceh. Baik dalam bahasa penguasa Orde Baru maupun para aktivis mahasiswanya, semua gerakan yang tersebut belakangan tidak disebut-sebut sebagai bagian dari gerakan mahasiswa Indonesia. Yang dianggap sebagai tonggak sejarah gerakan mahasiswa Indonesia adalah angkatan 66, 1974, 1978, 1985, 1998 dan seterusnya.

Dibandingkan 20 tahun lalu Indonesia berubah banyak, walau tidak semua menguntungkan kepentingan publik. Politik partai jadi marak. Pembagian kekuasaan presiden dan parlemen berubah drastis. Lalu lintas informasi luar biasa derasnya. Sebagian karena kemerdekaan yang dinikmati media massa. Sebagian karena meluasnya industri internet.

Sedikit banyak perubahan ini termasuk yang diperjuangkan oleh aktivis mahasiswa. Ironisnya, tidak semua mantan tokoh mahasiswa siap mental menghadapi perubahan sejarah ini. Gejala krisis identitas melanda banyak mantan aktivis mahasiswa di berbagai negeri pasca-otoriterisme.

Perubahan sejarah mutakhir membuat mereka jadi kelimpungan kehilangan peran pahlawan. Maklum peran itu pernah mendongkrak gengsi, percaya diri, dan rezeki mereka. Ketika matahari menyorot bumi di siang bolong, sebagian dari mereka berdemonstrasi mengacungkan lampu senter dan bertekad menerangi dunia.

Sumber: Kompas, 21 Januari 2007

Monday, December 8, 2008

POLITIK MEMANG T*I KUCING!

Kita paham bahwa sekarang era berada pada tingkat reproduksi (fashion, media, publisitas, informasi, dan jaringan komunikasi), pada tingkat yang secara serampangan disebut Marx dengan sektor kapital yang tidak esensial… artinya dalam ruang simulakra, kode, proses kapital global ditemukan. (Baudrillard, 1983:99)


Hm, ada memang beberapa fenomena menarik, terutama mengenai media terakhir ini. Anda tahu Barack Obama? hahaha, dia ini memang telah menjadi simbol, tepatnya, fenomena. Hebat, ketika dia naik tampil menjadi calon presiden AS, dengan sulapan media dengan komposisi yang sangat 'kontemporer' (sebutlah siapa mereka yang muncul dalam kampanye...Gywneth Palthrow, Wyclef Jean, Kanye West, dan seterusnya). Mereka datang dengan wajah yang kini diidolakan generasi yang tumbuh pada 1990-2000'an. Paling tidak (kampanye) Obama berhasil membuat citra yang menaikkan harapan orang-orang membumbung tinggi atas Amerika: Iklim politik yang kondusif, wajah yang penuh damai-sentosa. Kedatangannya diharapkan memperbaiki langkah-langkah Bush yang kurang tepat jika tidak mau dikatakan salah. Tapi tentunya, jangan berharap terlalu tinggi.

Ada beberapa cara lain, ya tergantung siapa target marketnya siapa.

Jika di Indonesia, baru-baru ini saya melihat kecenderungan untuk mengangkat berbagai tokoh-tokoh lama yang beberapa merupakan tokoh-tokoh kemerdekaan. Ya, mungkin ingin mengidentifikasi dengan langkah-langkah yang telah mereka tempuh dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Republik ini. Ya, tentu saja, Anda akan sangat bersyukur jika Anda menginginkan sebuah karir politik dan ternyata hasrat itu memang mengalir dalam darah Anda! Betul! dalam setiap gen X dalam DNA Anda, dan saya tentu tidak perlu menjelaskan siapa yang menggunakan 'jalur nasib' ini. Bayangkan jika Anda adalah tokoh politik dan Anda punya 11 anak, dan kesemuanya memilih jalur politik dengan partai yang berbeda-beda. Menarik bukan?

Bagaimana dengan yang tidak?

Tentulah, Anda mesti banyak berpikir keras, jangan sampai Anda mengambil tokoh yang telah menjadi tokoh bagi organ atau lembaga lain. Adapula yang terjebak dengan meninggalnya, maaf saya harus blak-blakan, Soeharto. Kita ingat bagaimana kerasnya reaksi terhadap parpol yang mengangkat almarhum yang senantiasa tersenyum ini. Dan coba ingat, bagaimana orang berduyun-duyun memaafkan atas meninggalnya dia, ya, tentu saja jika dihitung kurun waktunya belum begitu lama. Dan, saya pun berpikir, haha, yang katanya adil pun belum dapat adil dalam melihat keadaan, tentu untuk kesemuanya saya tidak dapat mengatakan mereka juga adil. Ya, poinnya adalah, kenyataan bahwa almarhum Soeharto memang belum diadili. Entah mengapa saya teringat Slobodan Milosevic.

Atau dapat saja Anda memakai media yang lain. Gunakan konsep desain modern,"Form Follow Function". Fenomena apa yang paling penting sekarang ini. Seperti kampanye walikota Bandung, Anda tentu saja bingung apakah iklan tersebut benar mengiklankan dukungan pada Persib atau pada calon walikota? Bahkan sempat saya melihat kampanye di wilayah pemakaman. Janjinya kira-kira sekitar pengolahan wilayah pemakaman menjadi lebih nyaman atau semacamnya. Tentu saja dengan wajah walikota dipasang besar-besar dibandingkan dengan render rancangan pemakamannya.

Atau ketika ramai musim hujan, selokan mampet, dan tiba-tiba datang sekelompok orang entah darimana membetulkan selokan tersebut. Pemandangan yang indah memang, tetapi saya ingin bertanya kenapa mereka semua memakai kaos berlogo parpol???

Hari ketika saya posting ini adalah hari Idul Adha, dan jangan terkejut melihat wajah calon atau lambang parpol tertera dalam kantong plastik yang berisi daging kurban....

Mengutip kata Soe Hok Gie, "Politik Memang Tai Kucing!"

Monday, October 27, 2008

He, cita-citamu apa?

Coba bayangkan, 25-30 tahun lagi, Anda akan menjadi siapa?. Kalo kata doktrinasi-sejak saya ospek, kita memang akan menjadi "seseorang" (hei, terutama Anda-Anda yang belajar di tempat yang mengklaim tempatnya sebagai "the best"). Tetapi, hal itu pada dasarnya, wajar dan sangat biasa. Hidup ini mengalir, dimana ada mulai dan akhir, dimana ada pensiun juga.

Saya ngeri ketika membayangkan 25 tahun lagi saya bertemu kembali dengan teman sepantaran, menjadi apa mereka dan saya. Saya pun hanya bisa berencana dan berkeinginan, dan Tuhan yang Maha Tahu nantinya saya jadi apa.

Apapun doktrinasinya, yang jelas, kita tentu mesti dapat bercita-cita, menjadi apa, dan kita sendiri yang menggali jalan kesitu. Pada dasarnya menggali jalan itu seperti menggali harta karun. Kita terus menggali, seolah-olah baru, padahal jalurnya memang telah ada.

Dengan kondisi yang ada, teman-teman, lingkungan, bangsa, sampai diri Anda, ya...sebenarnya kita-kita ini mau jadi apa sih?

Joshua si penyanyi cilik (waktu itu) bilang dia kepingin pinter kayak Habibie, tetapi toh dia sekarang dia bekerja keras untuk merubah citranya menjadi artis remaja, segera saya menduga bahwa apa yang dinyanyikan si Joshua cilik tersebut "cita-cita tersembunyi" dari pencipta lagu.

Apapun, kita mesti siap dengan cerita yang kita goreskan maupun yang kita lihat nantinya. Sikap berbesar hati itulah menjadi penting. Toh yang bikin itu penting ya kita-kita sendiri. Apakah posisinya sebagai kenangan, penyesalan, dan seterusnya. Yang penting daya hidupnya yang terus dinyalakan. Ketika kenangan itu pahit, tentu saja kita mesti optimistis untuk mencetak kenangan yang baik di saat mendatang. "Hadapi saja," begitu kata Iwan Fals.

Ketika arus sekarang mendudukkan pemuda sebagai objek yang terus reaktif, rasanya pemuda harus tetap ditempatkan pada "posisi yang masih bermetamorfosa". Mereka tidak berhenti pada Perguruan Tinggi, SMA/SMK/STM, SMP, SD, TK, apalagi playgroup, perjalanan dan masalahnya, masih amatlah panjang. Mereka, kita, saya, Anda, baru berhenti ketika kita mencapai titik paling akhir, dimana kita tidak akan bisa mengubah penyesalan menjadi kenangan yang manis. Dimana kita tidak hanya mengenang, namun dapat pula ganjarannya. Di tempat yang biasa disebut Padang Mahsyar.

Berbicara itu mudah, ya, seperti yang saya lakukan ini. Di sisi lain, saya menjadi betul-betul kerdil.


Posting ini dibuat dalam rangka memperingati sumpah pemuda
buat Lucky: ini hasil renungan saya dengan posting Anda, Bung!