Showing posts with label puisi. Show all posts
Showing posts with label puisi. Show all posts

Sunday, November 9, 2008

Manifesto

raga telah tergilas
asap berlayar
mengarungi ingatan
yang dibuat oleh buku-buku
dan olahan cerita guru

dan pelangi yang kini berperang panji
kemanakah kalian hendak berpihak
kaki kalian fatamorgana yang raksasa
maka TIDAK!
aku katakan TIDAK! untuk mereka

kini tali temali teralis memagar fikiran
dicandu oleh tontonan yang tidak sehat
serta syair gatal-gatal
maka TIDAK!
aku katakan TIDAK! untuk mereka

berabad perjuangan manusia berkisar
bukan mempertahankan nyawa
tetapi menjadi berdaya
dan aku katakan TIDAK!
aku katakan TIDAK! untuk mereka


(auliaibrahimyeru, 10november2008, bandung)

Monday, March 24, 2008

Kesaksian (karya W.S Rendra)

.. aku mendengar suara
jerit hewan yang terluka
ada orang memanah rembulan
ada anak burung jatuh dari sangkarnya.

orang-orang harus dibangunkan
kesaksian harus diberikan
agar kehidupan dapat terjaga ..


Posting ini saya khususkan untuk ITB

Wednesday, September 12, 2007

Sajak 20 Agustus di Plaza Widya

Gelap terlalu pekat menyelimuti
ada serigala barat yang asyik merengguk anggur menggerogoti kelinci rembulan
dan dibawah kegelapan itu rektor dan investor sibuk bertandatangan
ya, begitulah cara lahan-lahan kampus kian menghilang perlahan-lahan

Sementara itu bapak-bapak dari dinas pendidikan
sibuk mengulik-ulik proposal sekolah-sekolah tertinggal
mencari kesempatan untuk mendapatkan segarnya cairan dana
dan menteri keuangan sibuk mengemis-ngemis utang
bersujud-sujud ia di keset Bank Dunia
sementara alat negara yang mengurusi hak rakyat
terampok permainan tangan saham

Oh, plaza widya nusantara menjadi saksi
bahkan jika kantor rektorat nantinya disulap menjadi tempat perbelanjaan
bila nanti rektor dapat memadamkan sekring sinar rembulan
niscaya mahasiswa akan terus berdiskusi tentang kehidupan
di malam hari setelah seharian memakan sayur-mayur perkuliahan

(auliaibrahimyeru, 20 Agustus 2007, Plaza Widya Nusantara-ITB)

Senja Kelabu

Meongan dua kucing pertanda duka
Bunda kehilangan anaknya, anak kehilangan saudaranya
meraung mereka, saudaranya kembali dipeluk oleh tanah.
Mencari dalam gelap, mereka bersikukuh mengais harapan.

Hari tenggelam, biru berganti gelap sempurna
Hus, hentikan meongannya !!
hatiku susah karenanya, teringat apa yang telah kulakukan
menjelang senja membawa hari tenggelam :
kuterkejut melihatnya, kumisnya telah lemah,
tergolek terubung lalat di aspal jalanan,
segera kukubur mayatnya dengan dibungkus koran
menjadi pupuk bersemilir duka dibawah pohon durian

(auliaibrahimyeru, 9 September 2007, Bandung)