Wednesday, September 12, 2007

Sajak 20 Agustus di Plaza Widya

Gelap terlalu pekat menyelimuti
ada serigala barat yang asyik merengguk anggur menggerogoti kelinci rembulan
dan dibawah kegelapan itu rektor dan investor sibuk bertandatangan
ya, begitulah cara lahan-lahan kampus kian menghilang perlahan-lahan

Sementara itu bapak-bapak dari dinas pendidikan
sibuk mengulik-ulik proposal sekolah-sekolah tertinggal
mencari kesempatan untuk mendapatkan segarnya cairan dana
dan menteri keuangan sibuk mengemis-ngemis utang
bersujud-sujud ia di keset Bank Dunia
sementara alat negara yang mengurusi hak rakyat
terampok permainan tangan saham

Oh, plaza widya nusantara menjadi saksi
bahkan jika kantor rektorat nantinya disulap menjadi tempat perbelanjaan
bila nanti rektor dapat memadamkan sekring sinar rembulan
niscaya mahasiswa akan terus berdiskusi tentang kehidupan
di malam hari setelah seharian memakan sayur-mayur perkuliahan

(auliaibrahimyeru, 20 Agustus 2007, Plaza Widya Nusantara-ITB)

Senja Kelabu

Meongan dua kucing pertanda duka
Bunda kehilangan anaknya, anak kehilangan saudaranya
meraung mereka, saudaranya kembali dipeluk oleh tanah.
Mencari dalam gelap, mereka bersikukuh mengais harapan.

Hari tenggelam, biru berganti gelap sempurna
Hus, hentikan meongannya !!
hatiku susah karenanya, teringat apa yang telah kulakukan
menjelang senja membawa hari tenggelam :
kuterkejut melihatnya, kumisnya telah lemah,
tergolek terubung lalat di aspal jalanan,
segera kukubur mayatnya dengan dibungkus koran
menjadi pupuk bersemilir duka dibawah pohon durian

(auliaibrahimyeru, 9 September 2007, Bandung)