Tuesday, December 30, 2008

Konsisten (Part Two)

Banyak orang berharap pada sikap Presiden terpilih AS Barack Obama untuk kemudian lebih berpihak pada rakyat Palestina. Tetapi, kemungkinan besar tidak ada signifikansi terlihat dalam persoalan ini. Israel merupakan harga mati, kawan. Israel merupakan sekutu dekat AS, siapapun tahu itu. Dan mungkin sampai seterusnya akan begitu.

Pada awalnya, sikap saya, tentu saja berang. Bagaimanapun saya tidak bisa membenarkan tindakan beringas tersebut. Dan tentu saja saya berang terhadap AS, yang merupakan "polisi dunia" diam saja dan malah memihak Israel. Apalah arti bebatuan para prajurit dan bocah Palestina (atau lebih spesifik warga HAMAS??) dibandingkan senjata canggih kepunyaan Israel. Ini lelucon besar bagi saya. Tetapi jika dipikir, maka saya mau tidak mau memuji AS. Ada satu yang harus kita teladani dan amalkan dari sikap AS yang semenjak dahulu membela Israel mati-matian. Apakah itu? Jawab saya, "konsistensi".

Di Indonesia, tanah air tempat saya tumbuh dan menjadi sok tahu seperti sekarang, tidak jarang terdengar kebijakan yang sering kali gonta-ganti jika berganti kepemimpinan. Bahkan ada yang lebih buruk dari gonta-ganti kebijakan, yaitu melakukan kebijakan yang sia-sia, dan seringkali memakan biaya. Ada yang lebih lucu, mengganti kebijakan lama dengan kebijakan lama. Kok mengganti? Iya memang diganti, sampulnya yang diganti maksud saya huehahahaa.

*uhuk*
Jadi, mungkin seharusnya ada suatu kesepahaman pola keberjalanan bangsa seperti apa kedepannya. Tetapi, ini berkaitan langsung dengan pemahaman dan pemaknaan para pemimpin di negeri ini mengenai bangsa ini. Hal ini berkaitan langsung dengan pemahaman kita akan budaya. Hal ini bukanlah suatu yang harus dilembagakan. Terkadang hobi kita memang memaksakan diri untuk mengidentifikasi hal yang kualitatif menjadi kuantitatif. Anda ingat bahwa kita pernah masuk dalam fase pelembagaan kehidupan berkebangsaan? YA, ini terjadi selama 3 dekade (lebih sedikit) lamanya, di era yang dikenal sebagai Orde Baru.

Apa yang harus dipunya? menurut Profesor I Gede Raka dalam "last lecture"-nya, adalah makhluk bernama "Indonesian Dream". Bagaimana menurut Anda??

Apapun itu, yang diperlukan bangsa ini adalah suatu platform atau mendudukan kembali platform (mungkin UUD'45 dan Pancasila?) agar bangsa ini berjalan konsisten. Untuk konsisten butuh arahan. Jadi mungkin yang dibutuhkan pemimpin Indonesia sekarang bukan sekedar korupsi, sembako, dan lain-lain. Tetapi permasalahan fundamental, "Apa mimpi Anda dengan Indonesia yang akan Anda pimpin?"

Jika kembali menengok permasalahan Palestina-Israel yang tidak selesai-selesai, kita temukan kejanggalan pamor AS sebagai polisi dunia. Mengutip kata Hanief, seorang teman saya, mungkin sudah saatnya Indonesia harus berposisi sebagai "Hakim Dunia". Hm, menariik....

Who control the present now, control the future! (Rage Against The Machine)

Monday, December 8, 2008

POLITIK MEMANG T*I KUCING!

Kita paham bahwa sekarang era berada pada tingkat reproduksi (fashion, media, publisitas, informasi, dan jaringan komunikasi), pada tingkat yang secara serampangan disebut Marx dengan sektor kapital yang tidak esensial… artinya dalam ruang simulakra, kode, proses kapital global ditemukan. (Baudrillard, 1983:99)


Hm, ada memang beberapa fenomena menarik, terutama mengenai media terakhir ini. Anda tahu Barack Obama? hahaha, dia ini memang telah menjadi simbol, tepatnya, fenomena. Hebat, ketika dia naik tampil menjadi calon presiden AS, dengan sulapan media dengan komposisi yang sangat 'kontemporer' (sebutlah siapa mereka yang muncul dalam kampanye...Gywneth Palthrow, Wyclef Jean, Kanye West, dan seterusnya). Mereka datang dengan wajah yang kini diidolakan generasi yang tumbuh pada 1990-2000'an. Paling tidak (kampanye) Obama berhasil membuat citra yang menaikkan harapan orang-orang membumbung tinggi atas Amerika: Iklim politik yang kondusif, wajah yang penuh damai-sentosa. Kedatangannya diharapkan memperbaiki langkah-langkah Bush yang kurang tepat jika tidak mau dikatakan salah. Tapi tentunya, jangan berharap terlalu tinggi.

Ada beberapa cara lain, ya tergantung siapa target marketnya siapa.

Jika di Indonesia, baru-baru ini saya melihat kecenderungan untuk mengangkat berbagai tokoh-tokoh lama yang beberapa merupakan tokoh-tokoh kemerdekaan. Ya, mungkin ingin mengidentifikasi dengan langkah-langkah yang telah mereka tempuh dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Republik ini. Ya, tentu saja, Anda akan sangat bersyukur jika Anda menginginkan sebuah karir politik dan ternyata hasrat itu memang mengalir dalam darah Anda! Betul! dalam setiap gen X dalam DNA Anda, dan saya tentu tidak perlu menjelaskan siapa yang menggunakan 'jalur nasib' ini. Bayangkan jika Anda adalah tokoh politik dan Anda punya 11 anak, dan kesemuanya memilih jalur politik dengan partai yang berbeda-beda. Menarik bukan?

Bagaimana dengan yang tidak?

Tentulah, Anda mesti banyak berpikir keras, jangan sampai Anda mengambil tokoh yang telah menjadi tokoh bagi organ atau lembaga lain. Adapula yang terjebak dengan meninggalnya, maaf saya harus blak-blakan, Soeharto. Kita ingat bagaimana kerasnya reaksi terhadap parpol yang mengangkat almarhum yang senantiasa tersenyum ini. Dan coba ingat, bagaimana orang berduyun-duyun memaafkan atas meninggalnya dia, ya, tentu saja jika dihitung kurun waktunya belum begitu lama. Dan, saya pun berpikir, haha, yang katanya adil pun belum dapat adil dalam melihat keadaan, tentu untuk kesemuanya saya tidak dapat mengatakan mereka juga adil. Ya, poinnya adalah, kenyataan bahwa almarhum Soeharto memang belum diadili. Entah mengapa saya teringat Slobodan Milosevic.

Atau dapat saja Anda memakai media yang lain. Gunakan konsep desain modern,"Form Follow Function". Fenomena apa yang paling penting sekarang ini. Seperti kampanye walikota Bandung, Anda tentu saja bingung apakah iklan tersebut benar mengiklankan dukungan pada Persib atau pada calon walikota? Bahkan sempat saya melihat kampanye di wilayah pemakaman. Janjinya kira-kira sekitar pengolahan wilayah pemakaman menjadi lebih nyaman atau semacamnya. Tentu saja dengan wajah walikota dipasang besar-besar dibandingkan dengan render rancangan pemakamannya.

Atau ketika ramai musim hujan, selokan mampet, dan tiba-tiba datang sekelompok orang entah darimana membetulkan selokan tersebut. Pemandangan yang indah memang, tetapi saya ingin bertanya kenapa mereka semua memakai kaos berlogo parpol???

Hari ketika saya posting ini adalah hari Idul Adha, dan jangan terkejut melihat wajah calon atau lambang parpol tertera dalam kantong plastik yang berisi daging kurban....

Mengutip kata Soe Hok Gie, "Politik Memang Tai Kucing!"