Banyak orang berharap pada sikap Presiden terpilih AS Barack Obama untuk kemudian lebih berpihak pada rakyat Palestina. Tetapi, kemungkinan besar tidak ada signifikansi terlihat dalam persoalan ini. Israel merupakan harga mati, kawan. Israel merupakan sekutu dekat AS, siapapun tahu itu. Dan mungkin sampai seterusnya akan begitu.
Pada awalnya, sikap saya, tentu saja berang. Bagaimanapun saya tidak bisa membenarkan tindakan beringas tersebut. Dan tentu saja saya berang terhadap AS, yang merupakan "polisi dunia" diam saja dan malah memihak Israel. Apalah arti bebatuan para prajurit dan bocah Palestina (atau lebih spesifik warga HAMAS??) dibandingkan senjata canggih kepunyaan Israel. Ini lelucon besar bagi saya. Tetapi jika dipikir, maka saya mau tidak mau memuji AS. Ada satu yang harus kita teladani dan amalkan dari sikap AS yang semenjak dahulu membela Israel mati-matian. Apakah itu? Jawab saya, "konsistensi".
Di Indonesia, tanah air tempat saya tumbuh dan menjadi sok tahu seperti sekarang, tidak jarang terdengar kebijakan yang sering kali gonta-ganti jika berganti kepemimpinan. Bahkan ada yang lebih buruk dari gonta-ganti kebijakan, yaitu melakukan kebijakan yang sia-sia, dan seringkali memakan biaya. Ada yang lebih lucu, mengganti kebijakan lama dengan kebijakan lama. Kok mengganti? Iya memang diganti, sampulnya yang diganti maksud saya huehahahaa.
*uhuk*
Jadi, mungkin seharusnya ada suatu kesepahaman pola keberjalanan bangsa seperti apa kedepannya. Tetapi, ini berkaitan langsung dengan pemahaman dan pemaknaan para pemimpin di negeri ini mengenai bangsa ini. Hal ini berkaitan langsung dengan pemahaman kita akan budaya. Hal ini bukanlah suatu yang harus dilembagakan. Terkadang hobi kita memang memaksakan diri untuk mengidentifikasi hal yang kualitatif menjadi kuantitatif. Anda ingat bahwa kita pernah masuk dalam fase pelembagaan kehidupan berkebangsaan? YA, ini terjadi selama 3 dekade (lebih sedikit) lamanya, di era yang dikenal sebagai Orde Baru.
Apa yang harus dipunya? menurut Profesor I Gede Raka dalam "last lecture"-nya, adalah makhluk bernama "Indonesian Dream". Bagaimana menurut Anda??
Apapun itu, yang diperlukan bangsa ini adalah suatu platform atau mendudukan kembali platform (mungkin UUD'45 dan Pancasila?) agar bangsa ini berjalan konsisten. Untuk konsisten butuh arahan. Jadi mungkin yang dibutuhkan pemimpin Indonesia sekarang bukan sekedar korupsi, sembako, dan lain-lain. Tetapi permasalahan fundamental, "Apa mimpi Anda dengan Indonesia yang akan Anda pimpin?"
Jika kembali menengok permasalahan Palestina-Israel yang tidak selesai-selesai, kita temukan kejanggalan pamor AS sebagai polisi dunia. Mengutip kata Hanief, seorang teman saya, mungkin sudah saatnya Indonesia harus berposisi sebagai "Hakim Dunia". Hm, menariik....
Who control the present now, control the future! (Rage Against The Machine)
Tuesday, December 30, 2008
Monday, December 8, 2008
POLITIK MEMANG T*I KUCING!
Kita paham bahwa sekarang era berada pada tingkat reproduksi (fashion, media, publisitas, informasi, dan jaringan komunikasi), pada tingkat yang secara serampangan disebut Marx dengan sektor kapital yang tidak esensial… artinya dalam ruang simulakra, kode, proses kapital global ditemukan. (Baudrillard, 1983:99)
Hm, ada memang beberapa fenomena menarik, terutama mengenai media terakhir ini. Anda tahu Barack Obama? hahaha, dia ini memang telah menjadi simbol, tepatnya, fenomena. Hebat, ketika dia naik tampil menjadi calon presiden AS, dengan sulapan media dengan komposisi yang sangat 'kontemporer' (sebutlah siapa mereka yang muncul dalam kampanye...Gywneth Palthrow, Wyclef Jean, Kanye West, dan seterusnya). Mereka datang dengan wajah yang kini diidolakan generasi yang tumbuh pada 1990-2000'an. Paling tidak (kampanye) Obama berhasil membuat citra yang menaikkan harapan orang-orang membumbung tinggi atas Amerika: Iklim politik yang kondusif, wajah yang penuh damai-sentosa. Kedatangannya diharapkan memperbaiki langkah-langkah Bush yang kurang tepat jika tidak mau dikatakan salah. Tapi tentunya, jangan berharap terlalu tinggi.
Ada beberapa cara lain, ya tergantung siapa target marketnya siapa.
Jika di Indonesia, baru-baru ini saya melihat kecenderungan untuk mengangkat berbagai tokoh-tokoh lama yang beberapa merupakan tokoh-tokoh kemerdekaan. Ya, mungkin ingin mengidentifikasi dengan langkah-langkah yang telah mereka tempuh dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Republik ini. Ya, tentu saja, Anda akan sangat bersyukur jika Anda menginginkan sebuah karir politik dan ternyata hasrat itu memang mengalir dalam darah Anda! Betul! dalam setiap gen X dalam DNA Anda, dan saya tentu tidak perlu menjelaskan siapa yang menggunakan 'jalur nasib' ini. Bayangkan jika Anda adalah tokoh politik dan Anda punya 11 anak, dan kesemuanya memilih jalur politik dengan partai yang berbeda-beda. Menarik bukan?
Bagaimana dengan yang tidak?
Tentulah, Anda mesti banyak berpikir keras, jangan sampai Anda mengambil tokoh yang telah menjadi tokoh bagi organ atau lembaga lain. Adapula yang terjebak dengan meninggalnya, maaf saya harus blak-blakan, Soeharto. Kita ingat bagaimana kerasnya reaksi terhadap parpol yang mengangkat almarhum yang senantiasa tersenyum ini. Dan coba ingat, bagaimana orang berduyun-duyun memaafkan atas meninggalnya dia, ya, tentu saja jika dihitung kurun waktunya belum begitu lama. Dan, saya pun berpikir, haha, yang katanya adil pun belum dapat adil dalam melihat keadaan, tentu untuk kesemuanya saya tidak dapat mengatakan mereka juga adil. Ya, poinnya adalah, kenyataan bahwa almarhum Soeharto memang belum diadili. Entah mengapa saya teringat Slobodan Milosevic.
Atau dapat saja Anda memakai media yang lain. Gunakan konsep desain modern,"Form Follow Function". Fenomena apa yang paling penting sekarang ini. Seperti kampanye walikota Bandung, Anda tentu saja bingung apakah iklan tersebut benar mengiklankan dukungan pada Persib atau pada calon walikota? Bahkan sempat saya melihat kampanye di wilayah pemakaman. Janjinya kira-kira sekitar pengolahan wilayah pemakaman menjadi lebih nyaman atau semacamnya. Tentu saja dengan wajah walikota dipasang besar-besar dibandingkan dengan render rancangan pemakamannya.
Atau ketika ramai musim hujan, selokan mampet, dan tiba-tiba datang sekelompok orang entah darimana membetulkan selokan tersebut. Pemandangan yang indah memang, tetapi saya ingin bertanya kenapa mereka semua memakai kaos berlogo parpol???
Hari ketika saya posting ini adalah hari Idul Adha, dan jangan terkejut melihat wajah calon atau lambang parpol tertera dalam kantong plastik yang berisi daging kurban....
Mengutip kata Soe Hok Gie, "Politik Memang Tai Kucing!"
Sunday, November 9, 2008
Manifesto
raga telah tergilas
asap berlayar
mengarungi ingatan
yang dibuat oleh buku-buku
dan olahan cerita guru
dan pelangi yang kini berperang panji
kemanakah kalian hendak berpihak
kaki kalian fatamorgana yang raksasa
maka TIDAK!
aku katakan TIDAK! untuk mereka
kini tali temali teralis memagar fikiran
dicandu oleh tontonan yang tidak sehat
serta syair gatal-gatal
maka TIDAK!
aku katakan TIDAK! untuk mereka
berabad perjuangan manusia berkisar
bukan mempertahankan nyawa
tetapi menjadi berdaya
dan aku katakan TIDAK!
aku katakan TIDAK! untuk mereka
(auliaibrahimyeru, 10november2008, bandung)
Monday, October 27, 2008
He, cita-citamu apa?
Coba bayangkan, 25-30 tahun lagi, Anda akan menjadi siapa?. Kalo kata doktrinasi-sejak saya ospek, kita memang akan menjadi "seseorang" (hei, terutama Anda-Anda yang belajar di tempat yang mengklaim tempatnya sebagai "the best"). Tetapi, hal itu pada dasarnya, wajar dan sangat biasa. Hidup ini mengalir, dimana ada mulai dan akhir, dimana ada pensiun juga.
Saya ngeri ketika membayangkan 25 tahun lagi saya bertemu kembali dengan teman sepantaran, menjadi apa mereka dan saya. Saya pun hanya bisa berencana dan berkeinginan, dan Tuhan yang Maha Tahu nantinya saya jadi apa.
Apapun doktrinasinya, yang jelas, kita tentu mesti dapat bercita-cita, menjadi apa, dan kita sendiri yang menggali jalan kesitu. Pada dasarnya menggali jalan itu seperti menggali harta karun. Kita terus menggali, seolah-olah baru, padahal jalurnya memang telah ada.
Dengan kondisi yang ada, teman-teman, lingkungan, bangsa, sampai diri Anda, ya...sebenarnya kita-kita ini mau jadi apa sih?
Joshua si penyanyi cilik (waktu itu) bilang dia kepingin pinter kayak Habibie, tetapi toh dia sekarang dia bekerja keras untuk merubah citranya menjadi artis remaja, segera saya menduga bahwa apa yang dinyanyikan si Joshua cilik tersebut "cita-cita tersembunyi" dari pencipta lagu.
Apapun, kita mesti siap dengan cerita yang kita goreskan maupun yang kita lihat nantinya. Sikap berbesar hati itulah menjadi penting. Toh yang bikin itu penting ya kita-kita sendiri. Apakah posisinya sebagai kenangan, penyesalan, dan seterusnya. Yang penting daya hidupnya yang terus dinyalakan. Ketika kenangan itu pahit, tentu saja kita mesti optimistis untuk mencetak kenangan yang baik di saat mendatang. "Hadapi saja," begitu kata Iwan Fals.
Ketika arus sekarang mendudukkan pemuda sebagai objek yang terus reaktif, rasanya pemuda harus tetap ditempatkan pada "posisi yang masih bermetamorfosa". Mereka tidak berhenti pada Perguruan Tinggi, SMA/SMK/STM, SMP, SD, TK, apalagi playgroup, perjalanan dan masalahnya, masih amatlah panjang. Mereka, kita, saya, Anda, baru berhenti ketika kita mencapai titik paling akhir, dimana kita tidak akan bisa mengubah penyesalan menjadi kenangan yang manis. Dimana kita tidak hanya mengenang, namun dapat pula ganjarannya. Di tempat yang biasa disebut Padang Mahsyar.
Berbicara itu mudah, ya, seperti yang saya lakukan ini. Di sisi lain, saya menjadi betul-betul kerdil.
Posting ini dibuat dalam rangka memperingati sumpah pemuda
buat Lucky: ini hasil renungan saya dengan posting Anda, Bung!
Saya ngeri ketika membayangkan 25 tahun lagi saya bertemu kembali dengan teman sepantaran, menjadi apa mereka dan saya. Saya pun hanya bisa berencana dan berkeinginan, dan Tuhan yang Maha Tahu nantinya saya jadi apa.
Apapun doktrinasinya, yang jelas, kita tentu mesti dapat bercita-cita, menjadi apa, dan kita sendiri yang menggali jalan kesitu. Pada dasarnya menggali jalan itu seperti menggali harta karun. Kita terus menggali, seolah-olah baru, padahal jalurnya memang telah ada.
Dengan kondisi yang ada, teman-teman, lingkungan, bangsa, sampai diri Anda, ya...sebenarnya kita-kita ini mau jadi apa sih?
Joshua si penyanyi cilik (waktu itu) bilang dia kepingin pinter kayak Habibie, tetapi toh dia sekarang dia bekerja keras untuk merubah citranya menjadi artis remaja, segera saya menduga bahwa apa yang dinyanyikan si Joshua cilik tersebut "cita-cita tersembunyi" dari pencipta lagu.
Apapun, kita mesti siap dengan cerita yang kita goreskan maupun yang kita lihat nantinya. Sikap berbesar hati itulah menjadi penting. Toh yang bikin itu penting ya kita-kita sendiri. Apakah posisinya sebagai kenangan, penyesalan, dan seterusnya. Yang penting daya hidupnya yang terus dinyalakan. Ketika kenangan itu pahit, tentu saja kita mesti optimistis untuk mencetak kenangan yang baik di saat mendatang. "Hadapi saja," begitu kata Iwan Fals.
Ketika arus sekarang mendudukkan pemuda sebagai objek yang terus reaktif, rasanya pemuda harus tetap ditempatkan pada "posisi yang masih bermetamorfosa". Mereka tidak berhenti pada Perguruan Tinggi, SMA/SMK/STM, SMP, SD, TK, apalagi playgroup, perjalanan dan masalahnya, masih amatlah panjang. Mereka, kita, saya, Anda, baru berhenti ketika kita mencapai titik paling akhir, dimana kita tidak akan bisa mengubah penyesalan menjadi kenangan yang manis. Dimana kita tidak hanya mengenang, namun dapat pula ganjarannya. Di tempat yang biasa disebut Padang Mahsyar.
Berbicara itu mudah, ya, seperti yang saya lakukan ini. Di sisi lain, saya menjadi betul-betul kerdil.
Posting ini dibuat dalam rangka memperingati sumpah pemuda
buat Lucky: ini hasil renungan saya dengan posting Anda, Bung!
Saturday, October 18, 2008
Wednesday, October 8, 2008
Ejaan Yang Disesuaikan
Saya baru menyadari keganjilan kita dalam berbahasa. Beberapa mungkin sudah menyadari, saya melihat bahwa penggunaan kata kita memang terus berubah. Seperti yang ini:
Padahal bukannya 'pasangan' dari kata 'mudik' adalah 'hilir'? Seingat saya yang ada pasangan kata 'hilir-mudik', bukan 'mudik-balik'.
Jika demikian, maka seharusnya:
Nah lho?
Mungkin memang saya yang kurang tahu, maka dari itu, ada yang bisa mengkoreksi?
Arus Mudik-Arus Balik
Padahal bukannya 'pasangan' dari kata 'mudik' adalah 'hilir'? Seingat saya yang ada pasangan kata 'hilir-mudik', bukan 'mudik-balik'.
Jika demikian, maka seharusnya:
Arus Mudik-Arus Hilir
Nah lho?
Mungkin memang saya yang kurang tahu, maka dari itu, ada yang bisa mengkoreksi?
Sunday, September 28, 2008
Mari Berlari Sepuluh Putaran
Hm, kena tag juga dari ay. Yasudah saya kerjakan, hari gini masih maen beginian,ckckck.
Jadi ceritanya, kita harus bercerita tentang kita dalam sepuluh poin, cuman yang ngetag saya entah ga ada kerjaan atau apa bikin sampai 12 point (narsis ini mah..ckckck). Seusai mengerjakan, anda dipersilahkan mentag orang lain. OK, here we go...
1. Nama aseli di akte saya, Aulia Ibrahim Yeru. Biasa dipanggil Aul, Aulia, panggilan haram Lia, panggilan kapten john Ibrahim, panggilan dari nama ayah Yeru. Keluarga ayah aselinya berdarah jawatimuran dan keluarga ibu jawatengahan, kedua keluarga ini bertemu dengan pangkalnya ayah dan ibu saya di Tegal. Ya, inyong wong tegal....tapi numpang lahir di Prancis...tepatnya di Toulouse, tapi bahasa Perancisnya udah ga bisa lagi euy...harus belajar dari awal lagi ini mah...
Tradisi dari adat Jawa dapat dikatakan telah luntur, soalnya beberapa tergolong Musyrik, kalo Mus Mujiono itu mah artis, kalo Mushola itu tempat sholat.
2. Katanya dari perilaku bertiga saudara, saya adalah anak yang paling susah diatur, bandel. Terkadang suka melakukan perilaku yang yaa...cukup mengherankan. Contoh: makan tembok, ngolesin vaseline ke sekujur tubuh, menggubah lagu seenak jidad, memberi komentar seperlunya. Hm, biasa saja ya?? ngga tau tuh keluarga saya, kalo udah ngomongin saya memang suka hiperbola, padahal hiperkotak aja dulu...
3. Suka binatang?suka. waktu kecil, saya sempat dalam tahap 'sangat takut' ama binatang, ama capung takut, ama tikus takut, ama anjing takut, ama ikan mentah takut. Tapi sekarang sih suka ama kucing
4. Entah mengapa orang bilang saya garing. Padahal tiap pagi, dalam keadaan normal, kita dibiasakan untuk mandi (kecuali yang ngga doyan mandi), dan mandi jelas-jelas basah
5. Suka sejarah! saya menyukai kisah-kisah jaman dulu, hm, imajinasi juga sih. Puncak keemasan saya adalah waktu SMA, nilai sejarah saya ngga pernah kurang dari 80! sekarang udah di seni rupa, udah kegeruslah, cuman saya masih suka kok. Kalau kata Soekarno: DJAS MERAH (Djangan sekali-kali meloepakan sedjarah)
6. Sempat jadi bobotoh PERSIB. Kok sempet? saya pertama kenal Persib dari tukang mebel yang bikin lemari di rumah saya, jamannya Liga Dunhill kalo ga salah. Pokona mah can jadi urang Bandung, mun teu jadi bobotoh Persib. Salah satu kebanggaan saya atas Persib adalah mereka selalu mencetak dan memakai pemain lokal. Namun, semenjak Persib memakai pemain asing, kebanggaan saya meluntur. Hoiya, ada yang masih punya album kompilasi Persib? yang ada PAS Band, Koil, Harapan Jaya?? nyari euy....
7. Suka memasak, apalagi dalam keadaan kepepet. Saya inget dulu ditinggal di rumah, tanpa lauk, yang ada nasi ama cengek. Akhirnya untuk menghibur diri, saya 'memasak' nasi dan cengek tersebut, pake margarin gitu biar ada kesan bahwa saya memang 'memasak'. Ternyata lebih buruk daripada kurupuk plus saos tomat
8. Momen paling menegangkan adalah waktu saya disunat. Hahaha. Udah di 'meja panas' tetap saja meronta-ronta takut lihat suntikan. Kabur-kaburan gitu, kayaknya suster itu kesel juga ngeliat saya. Tapi akhirnya suster ada juga yang lihai, langsung menangkap dan menyuntik dan, blas, saya pun tidur seketika. ...abis saya histeris edan waktu itu...kayak domba mau disembelih...tapi asik dapat 'sumbangan' banyak hahaha, namun akhirnya nyokap juga yang megang tuh duit, entah disulap jadi apa
9. Cadel, ya saya cadel, ngga bisa ngomong 'r', hanya mendekati 'r' saja. Kalo ngga bisa ngomong l, jadinya cader, hahaha. Hm, kalo yang ini dibahas terus dari sd ampe badan segede-gede gaban gini. Sempet berusaha, dari belajar menggunakan kalimat penuh r (uleur mapay areuy, ular melingkar di atas pagar), sampai usaha fisik semisal menjepit lidah di pintu, tapi tetep aja ngga bisa, yang penting kan sudah usaha.
10. Cewek? saya pertama kali jadian ya sekarang ini. Hahaha. Tapi kalo suka cewek sih dari SD, hm, siapa ya? saya rada lupa baik nama pun wajah. Ya, biasalah saya kan pemalu, jadi ga pernah nyatain (dasar cupu hahaha). Ya emang ini pertama kali saya 'jadian', moga-moga langgeng haha. Doakeun weh yang terbaik...
11. Main concern...belum jadi swasTA, mo ngurus2 udah bukan jamannya lagi...hahaha...udah ah fokus buat masa depan, hm, mungkin babakan siliwangi jadi bahasan cukup ramai akhir-akhir ini (eh kang dada eta baksil teh dadana kota bandung...sesama dada teh dilarang saling meruksak...!!!eling...eling..geus heurin bandung teh...)
Tos ah. Sudah, sudah sebelas, artinya sudah kelebihan satu poin, ga mau nambah-nambah lagi. Kalo gitu saya akan mentag lanjut HAHAHAHAH...bersiaplah KELEAN!!!! (ditulisnya boleh di blog, friendster, atau facebook sekalipun)
1. Lucky, sudah lama saya tidak membaca blog Anda bung! hahaha
2. Helmi, kya..kya.....HelmiChan...saya kangen masa2 goblok di Kongres hahaha
3. Hanief...ini tuatua masih sadja berkeliaran di dunia persilatan hahahha
4. Haruno...hahahahahaha.....hidup mah proses yah??yah??
5. Zaldy...tukang komentar, udah zal..udah...
6. Giladilya Wilono...jangan2 kamu beneran betmennya huahaha....eits hati-hati bengek...
7. Ivan Backout...cobalah cara yang benar..hahah
8. Candra...dekil of the kumel..
9. Uda Darma...INKM I mengirim kepada INKM II groook...grooook.....
10. dan terakhir.....Nenek....ya siapa lagi...hahahaha....
Jadi ceritanya, kita harus bercerita tentang kita dalam sepuluh poin, cuman yang ngetag saya entah ga ada kerjaan atau apa bikin sampai 12 point (narsis ini mah..ckckck). Seusai mengerjakan, anda dipersilahkan mentag orang lain. OK, here we go...
1. Nama aseli di akte saya, Aulia Ibrahim Yeru. Biasa dipanggil Aul, Aulia, panggilan haram Lia, panggilan kapten john Ibrahim, panggilan dari nama ayah Yeru. Keluarga ayah aselinya berdarah jawatimuran dan keluarga ibu jawatengahan, kedua keluarga ini bertemu dengan pangkalnya ayah dan ibu saya di Tegal. Ya, inyong wong tegal....tapi numpang lahir di Prancis...tepatnya di Toulouse, tapi bahasa Perancisnya udah ga bisa lagi euy...harus belajar dari awal lagi ini mah...
Tradisi dari adat Jawa dapat dikatakan telah luntur, soalnya beberapa tergolong Musyrik, kalo Mus Mujiono itu mah artis, kalo Mushola itu tempat sholat.
2. Katanya dari perilaku bertiga saudara, saya adalah anak yang paling susah diatur, bandel. Terkadang suka melakukan perilaku yang yaa...cukup mengherankan. Contoh: makan tembok, ngolesin vaseline ke sekujur tubuh, menggubah lagu seenak jidad, memberi komentar seperlunya. Hm, biasa saja ya?? ngga tau tuh keluarga saya, kalo udah ngomongin saya memang suka hiperbola, padahal hiperkotak aja dulu...
3. Suka binatang?suka. waktu kecil, saya sempat dalam tahap 'sangat takut' ama binatang, ama capung takut, ama tikus takut, ama anjing takut, ama ikan mentah takut. Tapi sekarang sih suka ama kucing
4. Entah mengapa orang bilang saya garing. Padahal tiap pagi, dalam keadaan normal, kita dibiasakan untuk mandi (kecuali yang ngga doyan mandi), dan mandi jelas-jelas basah
5. Suka sejarah! saya menyukai kisah-kisah jaman dulu, hm, imajinasi juga sih. Puncak keemasan saya adalah waktu SMA, nilai sejarah saya ngga pernah kurang dari 80! sekarang udah di seni rupa, udah kegeruslah, cuman saya masih suka kok. Kalau kata Soekarno: DJAS MERAH (Djangan sekali-kali meloepakan sedjarah)
6. Sempat jadi bobotoh PERSIB. Kok sempet? saya pertama kenal Persib dari tukang mebel yang bikin lemari di rumah saya, jamannya Liga Dunhill kalo ga salah. Pokona mah can jadi urang Bandung, mun teu jadi bobotoh Persib. Salah satu kebanggaan saya atas Persib adalah mereka selalu mencetak dan memakai pemain lokal. Namun, semenjak Persib memakai pemain asing, kebanggaan saya meluntur. Hoiya, ada yang masih punya album kompilasi Persib? yang ada PAS Band, Koil, Harapan Jaya?? nyari euy....
7. Suka memasak, apalagi dalam keadaan kepepet. Saya inget dulu ditinggal di rumah, tanpa lauk, yang ada nasi ama cengek. Akhirnya untuk menghibur diri, saya 'memasak' nasi dan cengek tersebut, pake margarin gitu biar ada kesan bahwa saya memang 'memasak'. Ternyata lebih buruk daripada kurupuk plus saos tomat
8. Momen paling menegangkan adalah waktu saya disunat. Hahaha. Udah di 'meja panas' tetap saja meronta-ronta takut lihat suntikan. Kabur-kaburan gitu, kayaknya suster itu kesel juga ngeliat saya. Tapi akhirnya suster ada juga yang lihai, langsung menangkap dan menyuntik dan, blas, saya pun tidur seketika. ...abis saya histeris edan waktu itu...kayak domba mau disembelih...tapi asik dapat 'sumbangan' banyak hahaha, namun akhirnya nyokap juga yang megang tuh duit, entah disulap jadi apa
9. Cadel, ya saya cadel, ngga bisa ngomong 'r', hanya mendekati 'r' saja. Kalo ngga bisa ngomong l, jadinya cader, hahaha. Hm, kalo yang ini dibahas terus dari sd ampe badan segede-gede gaban gini. Sempet berusaha, dari belajar menggunakan kalimat penuh r (uleur mapay areuy, ular melingkar di atas pagar), sampai usaha fisik semisal menjepit lidah di pintu, tapi tetep aja ngga bisa, yang penting kan sudah usaha.
10. Cewek? saya pertama kali jadian ya sekarang ini. Hahaha. Tapi kalo suka cewek sih dari SD, hm, siapa ya? saya rada lupa baik nama pun wajah. Ya, biasalah saya kan pemalu, jadi ga pernah nyatain (dasar cupu hahaha). Ya emang ini pertama kali saya 'jadian', moga-moga langgeng haha. Doakeun weh yang terbaik...
11. Main concern...belum jadi swasTA, mo ngurus2 udah bukan jamannya lagi...hahaha...udah ah fokus buat masa depan, hm, mungkin babakan siliwangi jadi bahasan cukup ramai akhir-akhir ini (eh kang dada eta baksil teh dadana kota bandung...sesama dada teh dilarang saling meruksak...!!!eling...eling..geus heurin bandung teh...)
Tos ah. Sudah, sudah sebelas, artinya sudah kelebihan satu poin, ga mau nambah-nambah lagi. Kalo gitu saya akan mentag lanjut HAHAHAHAH...bersiaplah KELEAN!!!! (ditulisnya boleh di blog, friendster, atau facebook sekalipun)
1. Lucky, sudah lama saya tidak membaca blog Anda bung! hahaha
2. Helmi, kya..kya.....HelmiChan...saya kangen masa2 goblok di Kongres hahaha
3. Hanief...ini tuatua masih sadja berkeliaran di dunia persilatan hahahha
4. Haruno...hahahahahaha.....hidup mah proses yah??yah??
5. Zaldy...tukang komentar, udah zal..udah...
6. Giladilya Wilono...jangan2 kamu beneran betmennya huahaha....eits hati-hati bengek...
7. Ivan Backout...cobalah cara yang benar..hahah
8. Candra...dekil of the kumel..
9. Uda Darma...INKM I mengirim kepada INKM II groook...grooook.....
10. dan terakhir.....Nenek....ya siapa lagi...hahahaha....
Monday, March 24, 2008
Kesaksian (karya W.S Rendra)
.. aku mendengar suara
jerit hewan yang terluka
ada orang memanah rembulan
ada anak burung jatuh dari sangkarnya.
orang-orang harus dibangunkan
kesaksian harus diberikan
agar kehidupan dapat terjaga ..
Posting ini saya khususkan untuk ITB
Friday, March 14, 2008
PLTSa?
Sebenarnya cukup lama saya ingin posting perihal ini. Ya, mengenai Pembangkit Listrik Tenaga Sampah ini (harus dijelasin neh, gara2 Mbak Icha)
Mulanya, saya cuek dengan permasalahan ini. Tiba-tiba sekali, tidak ada hujan tidak ada petir, muncul demonstrasi penduduk Gedebage di gerbang depan Kampus ITB. Saya ingat sekali, di satu sisi, saya marah kepada demonstran, menurut saya, ITB tidak pantas dijelek-jelekkan secara frontal begitu (walaupun sebagai civitas akademika, saya sering mengkritik kebijakan kampus), di sisi lain, saya menjadi mempertanyakan fungsi ITB di dalam persoalan PLTsa ini. Demikian, persoalan ini menjadi angin lalu untuk saya, saya memilih untuk tidak memikirkannya. Hal ini mungkin dikarenakan saya yang makin jarang aktif di PSIK sehingga saya tidak begitu update tentang duduk persoalan ini. Pendalaman saya tentang permasalahan ini singkat saja:
1. Apakah birokrasi Jawa Barat dapat menjamin bahwa pembangunan PLTSa sudah aman dan memenuhi standar produk pembangunan? Salah-salah PLTSa itu dibuat asal, dan malah membuat masalah lagi. Kalau tembok PLTSa jebol gara-gara sekrupnya dikorup kan geger juga
2. Pertimbangkan topografi Bandung yang berupa cekungan, jika dibangun PLTSa di Bandung (Gedebage) bukankah asap yang dihasilkan akan berputar-putar saja? Jika demikian kondisinya, akan sangat berbahaya bagi penduduk Bandung, lebih bijak jika dicari alternatif yang lain
Tetapi, saya mulai terusik lagi dengan munculnya spanduk aneh yang bernada sama dengan jumlah yang besar di seantero Bandung. Isinya serupa: Mendukung Pembangunan PLTsa. Entahlah, nama forum masyarakat yang aneh-aneh itu muncul begitu saja-mungkin ada, tapi saya belum pernah dengar sebelumnya. Spanduk-spanduk ini aneh sekali: sangat seragam. Fontnya, kualitas spanduknya. Saya menduga ini muncul dari pro-PLTSa, terlepas kedudukannya benar atau salah. Tapi pikiran nakal saya muncul: jika benar, untuk apa membuat propaganda seperti itu? cukup saja buat artikel yang ilmiah dan bertanggungjawab, lalu buat press release di media.
Di sisi lain, saya juga kembali mempertanyakan fungsi intelektual ITB, yang menurut saya dapat berfungsi sebagai "orang-orang yang memperdalam permasalahan secara objektif tanpa bertendensi kekuasaan". Jika PLTSa ini memang salah, saya heran mengapa ITB tidak membuat pernyataan sekadar untuk tidak merekomendasikan pembangunan PLTSa. Namun, saya belum pernah berdiskusi langsung dengan Ari Darmawan Pasek, orang ITB yang melakukan AMDAL PLTSa, soalnya konon dia sangat mendukung pembangunan PLTSa. Jika PLTSa ini baik dan benar adanya, mengapa ITB atau Pemda tidak melakukan kampanye pencerdasan yang bersifat dua arah sekadar untuk mensosialisasikannya kepada masyarakat?
Apakah ITB hanya berkutat di permasalahan tubuhnya sendiri? apakah permasalahan Ganesha 10 hanya terbatas oleh teralis-teralis besi disekitaran Kampus? Atau jangan-jangan ITB lagi kepingin keciprat rejeki proyekan dari Pemda lalu cari jalan aman?
entahlah, (Maybe) Only God Knows Why
Mulanya, saya cuek dengan permasalahan ini. Tiba-tiba sekali, tidak ada hujan tidak ada petir, muncul demonstrasi penduduk Gedebage di gerbang depan Kampus ITB. Saya ingat sekali, di satu sisi, saya marah kepada demonstran, menurut saya, ITB tidak pantas dijelek-jelekkan secara frontal begitu (walaupun sebagai civitas akademika, saya sering mengkritik kebijakan kampus), di sisi lain, saya menjadi mempertanyakan fungsi ITB di dalam persoalan PLTsa ini. Demikian, persoalan ini menjadi angin lalu untuk saya, saya memilih untuk tidak memikirkannya. Hal ini mungkin dikarenakan saya yang makin jarang aktif di PSIK sehingga saya tidak begitu update tentang duduk persoalan ini. Pendalaman saya tentang permasalahan ini singkat saja:
1. Apakah birokrasi Jawa Barat dapat menjamin bahwa pembangunan PLTSa sudah aman dan memenuhi standar produk pembangunan? Salah-salah PLTSa itu dibuat asal, dan malah membuat masalah lagi. Kalau tembok PLTSa jebol gara-gara sekrupnya dikorup kan geger juga
2. Pertimbangkan topografi Bandung yang berupa cekungan, jika dibangun PLTSa di Bandung (Gedebage) bukankah asap yang dihasilkan akan berputar-putar saja? Jika demikian kondisinya, akan sangat berbahaya bagi penduduk Bandung, lebih bijak jika dicari alternatif yang lain
Tetapi, saya mulai terusik lagi dengan munculnya spanduk aneh yang bernada sama dengan jumlah yang besar di seantero Bandung. Isinya serupa: Mendukung Pembangunan PLTsa. Entahlah, nama forum masyarakat yang aneh-aneh itu muncul begitu saja-mungkin ada, tapi saya belum pernah dengar sebelumnya. Spanduk-spanduk ini aneh sekali: sangat seragam. Fontnya, kualitas spanduknya. Saya menduga ini muncul dari pro-PLTSa, terlepas kedudukannya benar atau salah. Tapi pikiran nakal saya muncul: jika benar, untuk apa membuat propaganda seperti itu? cukup saja buat artikel yang ilmiah dan bertanggungjawab, lalu buat press release di media.
Di sisi lain, saya juga kembali mempertanyakan fungsi intelektual ITB, yang menurut saya dapat berfungsi sebagai "orang-orang yang memperdalam permasalahan secara objektif tanpa bertendensi kekuasaan". Jika PLTSa ini memang salah, saya heran mengapa ITB tidak membuat pernyataan sekadar untuk tidak merekomendasikan pembangunan PLTSa. Namun, saya belum pernah berdiskusi langsung dengan Ari Darmawan Pasek, orang ITB yang melakukan AMDAL PLTSa, soalnya konon dia sangat mendukung pembangunan PLTSa. Jika PLTSa ini baik dan benar adanya, mengapa ITB atau Pemda tidak melakukan kampanye pencerdasan yang bersifat dua arah sekadar untuk mensosialisasikannya kepada masyarakat?
Apakah ITB hanya berkutat di permasalahan tubuhnya sendiri? apakah permasalahan Ganesha 10 hanya terbatas oleh teralis-teralis besi disekitaran Kampus? Atau jangan-jangan ITB lagi kepingin keciprat rejeki proyekan dari Pemda lalu cari jalan aman?
entahlah, (Maybe) Only God Knows Why
Saturday, March 1, 2008
Masa lalu
rasanya aneh sekali:
kemarin jumat, saya nonton video wisudaan dari angkatan 96,
pagi ini saya iseng nyari temen smp dan sma
saya merindukan masa-masa itu
saya berandai kalau student center masih berdiri
saya kembali pada masa smp yang penuh kekacrutan
saya kembali pada masa sma yang ancur-ancuran
entahlah, tetapi seperti waktu menelan. Pikiran jadi kacau. Masalahnya meliputi segala aspek, ga cuma diri, tetapi mengenai lingkungan, dan kondisi.
Dan saya bercermin kepada diri saya sekarang.
Aneh. Saya berubah sekali. Inikah yang disebut "menjadi dewasa"?
(Iwan Fals-Hadapi Saja)
kemarin jumat, saya nonton video wisudaan dari angkatan 96,
pagi ini saya iseng nyari temen smp dan sma
saya merindukan masa-masa itu
saya berandai kalau student center masih berdiri
saya kembali pada masa smp yang penuh kekacrutan
saya kembali pada masa sma yang ancur-ancuran
entahlah, tetapi seperti waktu menelan. Pikiran jadi kacau. Masalahnya meliputi segala aspek, ga cuma diri, tetapi mengenai lingkungan, dan kondisi.
Dan saya bercermin kepada diri saya sekarang.
Aneh. Saya berubah sekali. Inikah yang disebut "menjadi dewasa"?
Pasrah pada Ilahi
hanya itu yang kita bisa
Ambil hikmatnya ambil indahnya
Cobalah menari cobalah bernyanyi
Cobalah-cobalah mulai detik ini
Hadapi saja
(Iwan Fals-Hadapi Saja)
Mission Failed!!!
Sabtu kemarin, saya akhirnya (Setelah 3 tahun) berada ngendon di kampus cap gajah duduk, akhirnya saya mencicipi juga aksi turun ke jalan. Saya pun tak pelak dianugerahi amanah sebagai Komandan Lapangan. Tapi dasar orang linglung, saya pun harus banyak berterimakasih kepada anak2 yang ternyata lebih sigap daripada saya. Iye, sampai turun ke jalanan pun, saya masih "terjebak" dengan pikiran yang kemana-mana, walhasil pikiran yang seharusnya terkonsentrasi untuk massa aksi, akhirnya terpecah berkeping-keping. Itu sangat berbahaya...jangan diulangi!!!!!! Padahal segala keputusan tentang massa adanya di saya, kalo saya tiba2 mikirin cewek, masak ntar massa saya disuruh beliin coklat ayam jago rasa stroberi? nanti kan kacau beliau!
ya sudahlah, tampaknya saya harus banyak berlatih untuk berkonsentrasi sebagai pemimpin....
siangnya, kami (danlap dan para teklap) yang sudah terbakar rasa lapar, dengan tidak tahu malunya menyerbu CC dimana diselenggarakan acara MSDN kerjasama IF dan Microsoft itu. Dasar, setelah aksi kami memang merasa muda kembali (baca: nakal kembali). Kami serta merta pun menghampiri meja prasmanan, dan mengambil makanan dengan bebasnya. Sontak seseorang dengan baju panitia mendatangi saya.
"Anda siapa ya?"
"oh, cuman kita-kita aja lagi laper.."
"Anda mahasiswa kan??" (gayanya dah mulai kayak tatib ospek)
"iya..." (udah keder kayak junior di ospek)
"Anda tahu malu kan?? saya alumni sini"
"e....yah...yah.."
"Anda jangan makan makanan ini yah..anda tahu malu kan?? Anda MAHASISWA kan??"
abis gitu, akhirnya saya keder setengah mati dan langsung naro piring dan mabur. Padahal itu sop udah tumpah2..piring tuh dah penuh banget...kapan lagi coba????
akhirnya, misi infiltrasi saya gagal total....
pada acara makan2 berikutnya, saya ngga boleh gagal!!!!!!!!
ya sudahlah, tampaknya saya harus banyak berlatih untuk berkonsentrasi sebagai pemimpin....
siangnya, kami (danlap dan para teklap) yang sudah terbakar rasa lapar, dengan tidak tahu malunya menyerbu CC dimana diselenggarakan acara MSDN kerjasama IF dan Microsoft itu. Dasar, setelah aksi kami memang merasa muda kembali (baca: nakal kembali). Kami serta merta pun menghampiri meja prasmanan, dan mengambil makanan dengan bebasnya. Sontak seseorang dengan baju panitia mendatangi saya.
"Anda siapa ya?"
"oh, cuman kita-kita aja lagi laper.."
"Anda mahasiswa kan??" (gayanya dah mulai kayak tatib ospek)
"iya..." (udah keder kayak junior di ospek)
"Anda tahu malu kan?? saya alumni sini"
"e....yah...yah.."
"Anda jangan makan makanan ini yah..anda tahu malu kan?? Anda MAHASISWA kan??"
abis gitu, akhirnya saya keder setengah mati dan langsung naro piring dan mabur. Padahal itu sop udah tumpah2..piring tuh dah penuh banget...kapan lagi coba????
akhirnya, misi infiltrasi saya gagal total....
pada acara makan2 berikutnya, saya ngga boleh gagal!!!!!!!!
Subscribe to:
Posts (Atom)
