Monday, December 8, 2008

POLITIK MEMANG T*I KUCING!

Kita paham bahwa sekarang era berada pada tingkat reproduksi (fashion, media, publisitas, informasi, dan jaringan komunikasi), pada tingkat yang secara serampangan disebut Marx dengan sektor kapital yang tidak esensial… artinya dalam ruang simulakra, kode, proses kapital global ditemukan. (Baudrillard, 1983:99)


Hm, ada memang beberapa fenomena menarik, terutama mengenai media terakhir ini. Anda tahu Barack Obama? hahaha, dia ini memang telah menjadi simbol, tepatnya, fenomena. Hebat, ketika dia naik tampil menjadi calon presiden AS, dengan sulapan media dengan komposisi yang sangat 'kontemporer' (sebutlah siapa mereka yang muncul dalam kampanye...Gywneth Palthrow, Wyclef Jean, Kanye West, dan seterusnya). Mereka datang dengan wajah yang kini diidolakan generasi yang tumbuh pada 1990-2000'an. Paling tidak (kampanye) Obama berhasil membuat citra yang menaikkan harapan orang-orang membumbung tinggi atas Amerika: Iklim politik yang kondusif, wajah yang penuh damai-sentosa. Kedatangannya diharapkan memperbaiki langkah-langkah Bush yang kurang tepat jika tidak mau dikatakan salah. Tapi tentunya, jangan berharap terlalu tinggi.

Ada beberapa cara lain, ya tergantung siapa target marketnya siapa.

Jika di Indonesia, baru-baru ini saya melihat kecenderungan untuk mengangkat berbagai tokoh-tokoh lama yang beberapa merupakan tokoh-tokoh kemerdekaan. Ya, mungkin ingin mengidentifikasi dengan langkah-langkah yang telah mereka tempuh dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Republik ini. Ya, tentu saja, Anda akan sangat bersyukur jika Anda menginginkan sebuah karir politik dan ternyata hasrat itu memang mengalir dalam darah Anda! Betul! dalam setiap gen X dalam DNA Anda, dan saya tentu tidak perlu menjelaskan siapa yang menggunakan 'jalur nasib' ini. Bayangkan jika Anda adalah tokoh politik dan Anda punya 11 anak, dan kesemuanya memilih jalur politik dengan partai yang berbeda-beda. Menarik bukan?

Bagaimana dengan yang tidak?

Tentulah, Anda mesti banyak berpikir keras, jangan sampai Anda mengambil tokoh yang telah menjadi tokoh bagi organ atau lembaga lain. Adapula yang terjebak dengan meninggalnya, maaf saya harus blak-blakan, Soeharto. Kita ingat bagaimana kerasnya reaksi terhadap parpol yang mengangkat almarhum yang senantiasa tersenyum ini. Dan coba ingat, bagaimana orang berduyun-duyun memaafkan atas meninggalnya dia, ya, tentu saja jika dihitung kurun waktunya belum begitu lama. Dan, saya pun berpikir, haha, yang katanya adil pun belum dapat adil dalam melihat keadaan, tentu untuk kesemuanya saya tidak dapat mengatakan mereka juga adil. Ya, poinnya adalah, kenyataan bahwa almarhum Soeharto memang belum diadili. Entah mengapa saya teringat Slobodan Milosevic.

Atau dapat saja Anda memakai media yang lain. Gunakan konsep desain modern,"Form Follow Function". Fenomena apa yang paling penting sekarang ini. Seperti kampanye walikota Bandung, Anda tentu saja bingung apakah iklan tersebut benar mengiklankan dukungan pada Persib atau pada calon walikota? Bahkan sempat saya melihat kampanye di wilayah pemakaman. Janjinya kira-kira sekitar pengolahan wilayah pemakaman menjadi lebih nyaman atau semacamnya. Tentu saja dengan wajah walikota dipasang besar-besar dibandingkan dengan render rancangan pemakamannya.

Atau ketika ramai musim hujan, selokan mampet, dan tiba-tiba datang sekelompok orang entah darimana membetulkan selokan tersebut. Pemandangan yang indah memang, tetapi saya ingin bertanya kenapa mereka semua memakai kaos berlogo parpol???

Hari ketika saya posting ini adalah hari Idul Adha, dan jangan terkejut melihat wajah calon atau lambang parpol tertera dalam kantong plastik yang berisi daging kurban....

Mengutip kata Soe Hok Gie, "Politik Memang Tai Kucing!"

3 comments:

  1. hahaha,
    tiap orang boleh berpandangan bung..
    bisa bener,bisa juga salah.

    tapi sudut pandang lo terlalu sempit.
    terlalu pesimis. makanya kalo politik lu anggap tai kucing, bersihin dong.

    lihat juga fakta,masih ada ko parpol yang bisa bersih dalam politiknya! buka mata, buka telinga, buka hati
    peace dah...:D

    ReplyDelete
  2. mau komen aja tunggu disetujui penulis dulu? plis deh! ini negara demokrasi bung!

    ReplyDelete
  3. weits,maaf bung.
    pada umumnya gue seneng sama tulisan lo ko.. ttg moderasi komentar juga lo ga salah. selamat berkarya lagi dah...

    oya,gue emang tau lo,tapi kita belum kenalan. panggil aja gue ade :D
    sekali lagi, maaf ya'
    gue doain moga lo cepet lulus dah... amiin..

    ReplyDelete