Coba bayangkan, 25-30 tahun lagi, Anda akan menjadi siapa?. Kalo kata doktrinasi-sejak saya ospek, kita memang akan menjadi "seseorang" (hei, terutama Anda-Anda yang belajar di tempat yang mengklaim tempatnya sebagai "the best"). Tetapi, hal itu pada dasarnya, wajar dan sangat biasa. Hidup ini mengalir, dimana ada mulai dan akhir, dimana ada pensiun juga.
Saya ngeri ketika membayangkan 25 tahun lagi saya bertemu kembali dengan teman sepantaran, menjadi apa mereka dan saya. Saya pun hanya bisa berencana dan berkeinginan, dan Tuhan yang Maha Tahu nantinya saya jadi apa.
Apapun doktrinasinya, yang jelas, kita tentu mesti dapat bercita-cita, menjadi apa, dan kita sendiri yang menggali jalan kesitu. Pada dasarnya menggali jalan itu seperti menggali harta karun. Kita terus menggali, seolah-olah baru, padahal jalurnya memang telah ada.
Dengan kondisi yang ada, teman-teman, lingkungan, bangsa, sampai diri Anda, ya...sebenarnya kita-kita ini mau jadi apa sih?
Joshua si penyanyi cilik (waktu itu) bilang dia kepingin pinter kayak Habibie, tetapi toh dia sekarang dia bekerja keras untuk merubah citranya menjadi artis remaja, segera saya menduga bahwa apa yang dinyanyikan si Joshua cilik tersebut "cita-cita tersembunyi" dari pencipta lagu.
Apapun, kita mesti siap dengan cerita yang kita goreskan maupun yang kita lihat nantinya. Sikap berbesar hati itulah menjadi penting. Toh yang bikin itu penting ya kita-kita sendiri. Apakah posisinya sebagai kenangan, penyesalan, dan seterusnya. Yang penting daya hidupnya yang terus dinyalakan. Ketika kenangan itu pahit, tentu saja kita mesti optimistis untuk mencetak kenangan yang baik di saat mendatang. "Hadapi saja," begitu kata Iwan Fals.
Ketika arus sekarang mendudukkan pemuda sebagai objek yang terus reaktif, rasanya pemuda harus tetap ditempatkan pada "posisi yang masih bermetamorfosa". Mereka tidak berhenti pada Perguruan Tinggi, SMA/SMK/STM, SMP, SD, TK, apalagi playgroup, perjalanan dan masalahnya, masih amatlah panjang. Mereka, kita, saya, Anda, baru berhenti ketika kita mencapai titik paling akhir, dimana kita tidak akan bisa mengubah penyesalan menjadi kenangan yang manis. Dimana kita tidak hanya mengenang, namun dapat pula ganjarannya. Di tempat yang biasa disebut Padang Mahsyar.
Berbicara itu mudah, ya, seperti yang saya lakukan ini. Di sisi lain, saya menjadi betul-betul kerdil.
Posting ini dibuat dalam rangka memperingati sumpah pemuda
buat Lucky: ini hasil renungan saya dengan posting Anda, Bung!
wesss..betul banget..selamat hari sumpah pemuda...hidup pemudaaa...
ReplyDeletebetul betul..
ReplyDeletesaya takut kelak beberapa puluh tahun nanti saya menjadi corrupted..
smgt yg saya pegang sekarang :
"ORO POPULI, ORO DEI"
hahah
kalau bicara itu mudah, makanya lakukan..belum tentu itu sulit *hehehe*
ReplyDeletedan lebih baik lagi...bantulah teman2 Anda meraih cita-cita mereka...
bantuan kita akan sangat berarti untuk mereka yang kesulitan...
salam kenal
@suryowidiyanto: maju terus pemuda indonesia!!!
ReplyDelete@ivan: huehehe, sepakat! jangan takut sih, lebih baik bercita2 saja, huehehehe
@laila: ya! perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata (w.s rendra), hmm...sebenarnya bukan membantu cita2 ornag lain, tapi orientasi cita2 itu sendiri mungkin...tapi boleh juga kalo mo begitu, tipikal orang super-ikhlas berarti..heheh...senang berkenalan dengan Anda!
emang penyesalan ga pernah ontime..
ReplyDeletemdh2..kenang2an yg indah yang bisa diinget..
jd cita-citamu apa ul?
ReplyDeletepengen jd pengusaha kain? :unsure:
klo aq mah pgn bgt bisa jd istri yg baik buat suamiku, dan dan ibu yg baik untuk anak2ku, amien... :D
apapun jadinya kita kelak, moga2 aja bs selalu bermanfaat buat sekitar kita, meski manfaatnya mgkn tdk disadari oleh sekitar kita... :)
oya, link-kan aq ke blog-mu dong... :D
huehehe
ReplyDeleteamin2...jaman emansipasi jarang loh yang bercita-cita seperti Anda...
okay, saya link-keun..
hidup butuh cita-cita..terserah nantinya tercapai atau nggak. sayang kalo dibiarkan mengalir, karena air mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah :)
ReplyDeletecita-cita saya menjadi pengusaha yang mengembangkan sistem ekonomi islam, soalnya kapitalisasi pasar buat orang miskin makin miskin, yang bermodal makin kembung...