(1920)
Para studenten TH Bandung mengorganisir dirinya dalam sebuah wadah bernama Bandoeng Studenten Corps (BSC) atau Corpus Studiosorum Bandungense (CSB), organisasi kemahasiswaan tertua di Indonesia. Mahasiswa pribumi mengorganisir dirinya dalam wadah tersendiri, Indische Studenten Vereniging (ISV), karena merasa aspirasinya tidak tersalurkan di organisasi BSC. ISV ini memiliki banyak kegiatan seperti akademik, olahraga, kesenian, sampai diskusi politik.
(1945-1948)
Berdiri organisasi Senat Mahasiswa Fakultas Teknik Bandung (1945). Tidak banyak yang tercatat mengenai organisasi ini kecuali bersama-sama staf pengajar yang berkebangsaan Indonesia, memindahkan seluruh kegiatan akademik ke Yogyakarta untuk mendirikan Sekolah Tinggi Teknik di Yogyakarta yang kemudian menjadi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, dengan dekannya yang pertama Ir. Rooseno.
(1950)
Pada tahun 1950, berdirilah organisasi Dewan Mahasiswa Universitas Gadjah Mada dan Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia. Kebetulan di Bandung, berdiri juga Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia Bandung.(1960)
Beberapa tokoh mahasiswa seperti Piet Corputty (Teknik Sipil) dan Udaya Hadibroto (Teknik Pertambangan) menggulirkan isu berdirinya Dewan Mahasiswa. Usulan ini disepakati oleh himpunan-himpunan mahasiswa di Senat Mahasiswa Teknik, Ilmu Pasti dan Ilmu Alam, serta Ilmu Kimia dan Ilmu Hayati. Pada tanggal 20 November 1960, ketiga Senat Mahasiswa tersebut melebur menjadi Dewan Mahasiswa Institut Teknologi Bandung (DM ITB) dengan Ketua Umumnya yang pertama Piet Corputty dan Udaya Hadibroto sebagai Wakil Ketua Umum.(1966)
Dewan Mahasiswa adalah organisasi kemahasiswaan kampus yang berprinsip Pemerintahan Mahasiswa dengan Sidang Dewan Mahasiswa sebagai wakil-wakil Himpunan Mahasiswa dan badan legislatif, serta Badan Pengurus sebagai badan eksekutif. Ketua Umum Badan Pengurus dipilih oleh Anggota Sidang Dewan Mahasiswa dan bertanggung jawab kepada Sidang Dewan Mahasiswa.
Pada bulan Oktober 1966, diadakan Musyawarah Kerja pertama untuk memperbaiki organisasi kemahasiswaan ITB. Terbentuk Keluarga Mahasiswa ITB sebagai penyempurnaan Dewan Mahasiswa, Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) sebagai badan legislatif yang berisi wakil himpunan mahasiswa jurusan, dan Badan Pertimbangan Mahasiswa (BPM) sebagai perwakilan organisasi kemahasiswaan ekstra kampus seperti HMI, PMB, GMNI, PMII, dan lain-lain.(1979-1982)
DM ITB 1979-1980 dibawah pimpinan Aussie Gautama (GL’74), Lilik Asudirahardjo (MS’74), Samsoe Basarudin (EL’75), SB Irawan (GD’74), dan Iwan Basri (GD’76). Saat itu tahun akademik baru 1979 sudah berjalan dan mahasiswa lama sudah boleh berkuliah. Namun karena berbagai insiden, banyak pengurus Dewan Mahasiswa yang diskorsing, DO, ditangkap, ditahan dan dipenjarakan. Kepengurusan Iwan Basri yang berjalan selama 1980-1981 juga tidak banyak bisa bertahan. Akhirnya pada tahun 1982, 22 Ketua Himpunan dan 44 Ketua Unit Kegiatan menyatakan pembubaran Dewan Mahasiswa.(1993)
Pada tahun 1982, terbentuk Forum Ketua Himpunan Jurusan (FKHJ) dan Badan Koordinasi Satuan Kegiatan (BKSK) yang tetap mengkoordinasikan kegiatan kemahasiswaan terpusat ITB. Kuatnya represifitas birokrasi kampus terhadap kegiatan kemahasiswaan menyebabkan munculnya kelompok-kelompok studi. Kegiatan kemahasiswaan mengarah pada studi mendalam mengenai ideologi, politik, hukum, ekonomi, sosial dan budaya, apalagi setelah aliran filsafat posmodernisme masuk ke Indonesia.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof. Fuad Hasan mewajibkan berdirinya Senat Mahasiswa Peguruan Tinggi (SMPT) tahun 1990, mengakhiri era NKK-BKK. Mahasiswa UI, IPB, UNPAD, UGM, ITS dan UNAIR menerima konsep ini. Namun hasil referendum mahasiswa ITB tahun 1993 menghasilkan penolakan SMPT dan menyatakan perlunya pendirian Lembaga Sentral Mahasiswa dari, oleh dan untuk mahasiswa.
(1996)
Pada tanggal 20 Januari 1996, FKHJ dan BKSK ITB mendeklarasikan berdirinya Keluarga Mahasiswa ITB berikut kelengkapannya yaitu Kongres dan Kabinet KM ITB.(1998)
Pada bulan April 1996, Pembantu Rektor bidang Kemahasiswaan, Ir. Indradjati Sidi menggulirkan perlunya pendirian SMPT sebagai organisasi kemahasiswaan terpusat. Atas kepentingan legalitas organisasi, maka mahasiswa dan rektorat mengadakan Forum Balai Pertemuan Ilmiah (Forum BPI) diketuai oleh Haru Suwandharu (BI’93), Ketua Nymphaea. Forum BPI tidak menghasilkan kesepakatan apa-apa. Forum TVST diinisiasi juga oleh Pembantu Rektor selanjutnya Ir. Isnuwardianto dan diketuai oleh Vijaya Vitriyasa (MS’94), Kepala Gamais. Forum TVST dibayang-bayangi isu organisasi registrasi dan non-registrasi karena lima himpunan disegel akibat menolak registrasi.
(2001)
Pada tanggal 7-10 Juni 1998 diadakan Musyawarah Kerja KM ITB di Ciwidey. Pada Muker 1998 ini Konsepsi Organisasi Kemahasiwaan serta Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga ITB disahkan. Konsep Organisasi Kemahasiswaan mengacu pada Konsep Pemerintahan Mahasiswa dan visi Masyarakat Madani yang ditulis oleh Fandy Wijaya (GD’94)
Pada tanggal 10 Maret 2001, Abdillah Prasetya (FI’98) Ketua HIMAFI dan Krisna (GD’98) Ketua IMG mengadakan aksi pendudukan Sekretariat KM ITB. FKHJ bersama beberapa unit seperti PSIK, Veritas dan G-10 menyatakan pembekuan Kongres dan Kabinet, pembentukan Badan Pekerja Musyawarah Kerja (BP Muker) yang diketuai Aan Yuhannis (FI’99). Muker KM ITB 2001 menghasilkan keputusan perubahan basis organisasi KM ITB dari jurusan menjadi Himpunan, belum berhaknya mahasiswa TPB untuk memilih, dan pembentukan BKSK sebagai sarana aspirasi Unit Kegiatan. Sebagai informasi, BKSK bubar pada tahun 1997 akibat program relokasi Unit ke Gedung Bengkok dan Sunken Court dan menjadikan beberapa ruang Student Centre dijadikan lahan usaha oleh Birokrasi Kampus.
(2005)
Lokakarya Kemahasiswaan yang tidak selesai juga menjadi isu yang membayang-bayangi kelanjutan organisasi kemahasiswaan ITB. Bahkan saat ART ITB disahkan per 1 Januari 2006 dengan perubahan jumlah 5 Fakultas menjadi 5 Fakultas dan 5 Sekolah, belum ada kesamaan sikap mahasiswa ITB. Hanya ada pernyataan sikap penolakan implementasi ART ITB yang merugikan kemahasiswaan ITB.
(2006)
Pemilu Raya 2006 diwarnai insiden kecil akibat pengulangan proses Pemilu. Pemilu kali ini diikuti oleh 5 kandidat yaitu Dwi Arianto Nugroho (TK’02), Andi Mulyadi Adiwiarta (GM’02), Hendrajaya (IF’02), Syahfitri Anita (KI’02) dan Muhammad Lutfi (FT’03). Kontroversi Pemilu ini bertambah akibat diikutkannya TPB 2005 sebagai hasil amandemen AD ART KM ITB 2006. Pemilu ini dimenangkan oleh Dwi Arianto Nugroho.(2007)
Kongres 2006-2007 yang diketuai Helmi (MT’03) mengadakan Sidang Istimewa untuk mengubah AD ART dengan keputusan penting seperti perubahan status anggota muda kepada TPB sehingga angkatan 2006 tidak dapat memilih di Pemilu dan pembentukan Forum Rumpun Unit untuk mengirimkan Senator Perwakilan Unit.
(2008)
Kongres 2008-2000 yang diketuai Ilham Fathoni (IF’04) mengadakan Sidang Istimewa untuk mengubah AD ART dengan keputusan pemisahan jabatan rangkap Ketua Kabinet dan MWA Wakil Mahasiswa.
Dengan demikian, kita lihat beberapa kali sistem kita berubah-ubah. Sebenarnya, bukan dalam tataran sistem yang hendak diperdebatkan, entah dengan sistem "Kabinet-Kongres", "DM-MPM". "FKHJ-BKSK", dan sebagainya. Lebih penting lagi adalah bagaimana setiap elemen merasa bahwa dirinya adalah bagian dan teman dari teman-temannya yang lain di ITB-serta ikut pula bertanggungjawab atas segala sesuatu yang terjadi di dalamnya, dengan kata lain "Keluarga Mahasiswa ITB" adalah bagaimana kita mengorganisir teman-teman mahasiswa ITB. Contoh kecil, FKHJ tahun 1980 berani menyatakan sikap bahwa mereka bertanggungjawab atas kerusuhan kecil saat aksi mahasiswa memperingati NKK/BKK, entahlah, mungkin jika kita hadirkan persoalan tersebut pada jaman sekarang, rasanya kita tahu siapa yang akan kita tunjuk ketika terjadi sesuatu di KM-ITB. Jadi, sistem hanyalah alat untuk mempermudah. Dia bisa lekang dan usang. Dan, menurut Forum Rembug kemarin, katanya sistem sekarang masih bisa dipertahankan. Entah besok, entah juga tahun depan.
Hm, sebenarnya saya menyalin dari Hanief, dan saya hanya menyalin yang saya anggap benar saja. Makasih yak.
gw kira lo yg buat ul, ternyata dari manusia sejarah hanif ardrian, wuakakakkak
ReplyDeletegw kira lo yg buat ul, ternyata dari si manusia sejarah hanief adrian, wuekekek
ReplyDeletehmm..mnurut gw ga ada yg salah dgn sistem yg berubah setiap saat..asal itu memang kesepakatan bersama dgn didasari perubahan kondisi dan kebutuhan tiap jamannya..
ReplyDeletelagipula merupakan pembelajaran bagi kemahasiswaan tiap jamannya dgn mengkaji bentuk organisasi seideal mungkin..
ga kebayang aja klo sistem udah mapan dan mahasiswa berhenti utk memikirkan utk perbaikan..