Sunday, February 22, 2009

Asal Usul Aktivis

Hahaha...ini artikel saya dapat dari sini. Konyol sih, tapi menggambarkan sekali. Layak dibaca, bagi yang merasa dirinya "aktivis"!!

Oleh Ariel Heryanto

Seorang sahabat saya pernah menulis artikel tentang gerakan politik mahasiswa. Membaca tulisan itu saya jadi geli. Sebab, di situ aktivis mahasiswa digambarkan serba hebat dan berlebihan, sebagai gerakan moral dan intelektual yang kritis.

Ironisnya, tulisan seperti itu layak dipertanyakan secara moral maupun intelektual. Secara moral ada masalah, sebab penulisnya termasuk bagian dari kelompok yang dibanggakan. Ia dikenal sebagai sosok mantan aktivis mahasiswa. Ada juga masalah secara intelektual, sebab muluk-muluknya penggambaran sepihak para aktivis mahasiswa itu lebih mirip komik, propaganda penguasa otoriter, atau sinetron cengeng ketimbang ulasan kritis seorang cendekiawan.

Semua itu terjadi di akhir tahun 1980an dan awal 1990an. Tragis, dan bukannya ironis atau komedis, bila 20 tahun kemudian ada yang mencoba membangkitkan kembali dongeng tentang gerakan mahasiswa tanpa berniat melucu.

Dua dekade lalu, artikel koran yang meromantisir gerakan mahasiswa bisa dimaafkan. Waktu itu banyak mahasiswa digebugi tentara dan dipenjara karena berdemonstrasi. Gerakan mahasiswa menjadi primadona dalam ruang publik Orde Baru. Mereka sosok tunggal yang boleh dan mau menyuarakan kritik sosial dan keresahan masyarakat pinggiran. Nyaris semua saluran komunikasi publik yang lain dipangkas militer dan birokrasi negara.

Partai politik dikebiri habis-habisan. DPR menjalankan ibadah 5D: datang, duduk, diam, dengar, duit. Media massa dibredel, kecuali bila bersedia menjadi pengecer propaganda penguasa sambil belajar menjadi industri nasional. Organisasi kemasyarakatan hanya boleh menjadi alat-bantu program Pembangunan pemerintah.

Dalam situasi itu aktivis mahasiswa menjadi semacam petugas PPPK (pertolongan pertama pada kecelakaan). Mereka sedikit menjalankan peran yang seharusnya dijalankan parlemen yakni berdebat politik. Mereka sedikit menjalankan peran partai politik, yakni belajar berorganisasi, menggugat pemerintah, menebar janji perubahan, dan memobilisir massa. Mereka sedikit menjalankan peran yang seharusnya dikerjakan media massa: memberitakan kabar yang disensor penguasa lewat buletin, selebaran gelap, stiker, dan puisi.

Semua peran itu serba sedikit, tanggung, tapi penuh romantisme. Semua itu–seperti PPPK–lebih baik ada sedikit, ketimbang tidak ada sama sekali. Gerakan mahasiswa ibarat orang yang kebetulan membawa lampu senter di malam hari di saat listrik di seluruh kota padam.

Susahnya, tidak banyak di antara aktivis yang cukup kritis untuk memahami keterbatasan peran mereka dan situasi darurat yang melahirkan peran itu. Karena usia yang muda, sering dikejar tentara, dan dipahlawankan dalam artikel seperti yang ditulis sobat saya, ego para aktivis ini sering melembung kebablasan.

Bukan saja mereka gagal memahami jurang perbedaan di antara kerdilnya kemampuan nyata dan dongeng tentang hebatnya peran mereka sebagai agen perubahan sejarah. Mereka bahkan gagal memahami bahwa peran kerdil yang mereka miliki itu pun tak lebih dari hadiah istimewa yang dipinjamkan penguasa militer Orde Baru. Hitung-hitung, ini imbalan atas jasa gerakan mahasiswa 1966 menghantar militer menduduki istana.

Bagi penguasa waktu itu, aktivis mahasiswa ibaratnya "anak-anak" kandung, keponakan, calon menantu sendiri dalam keluarga besar politik negara Orde Baru. Mereka kadang-kadang menjengkelkan, tetapi tidak berbahaya. Tidak mengherankan sesudah lulus kuliah, sebagian dari aktivis mahasiswa bergabung dalam jaringan politik yang pernah dikritiknya.

Kasta dan nasib para aktivis mahasiswa itu berbeda jauh dari gerakan kaum muda dan mahasiswa yang berkait atau dikait-kaitkan dengan aliran radikal Islam, komunisme, atau separatisme di Maluku, Papua, Timor Timur, dan Aceh. Baik dalam bahasa penguasa Orde Baru maupun para aktivis mahasiswanya, semua gerakan yang tersebut belakangan tidak disebut-sebut sebagai bagian dari gerakan mahasiswa Indonesia. Yang dianggap sebagai tonggak sejarah gerakan mahasiswa Indonesia adalah angkatan 66, 1974, 1978, 1985, 1998 dan seterusnya.

Dibandingkan 20 tahun lalu Indonesia berubah banyak, walau tidak semua menguntungkan kepentingan publik. Politik partai jadi marak. Pembagian kekuasaan presiden dan parlemen berubah drastis. Lalu lintas informasi luar biasa derasnya. Sebagian karena kemerdekaan yang dinikmati media massa. Sebagian karena meluasnya industri internet.

Sedikit banyak perubahan ini termasuk yang diperjuangkan oleh aktivis mahasiswa. Ironisnya, tidak semua mantan tokoh mahasiswa siap mental menghadapi perubahan sejarah ini. Gejala krisis identitas melanda banyak mantan aktivis mahasiswa di berbagai negeri pasca-otoriterisme.

Perubahan sejarah mutakhir membuat mereka jadi kelimpungan kehilangan peran pahlawan. Maklum peran itu pernah mendongkrak gengsi, percaya diri, dan rezeki mereka. Ketika matahari menyorot bumi di siang bolong, sebagian dari mereka berdemonstrasi mengacungkan lampu senter dan bertekad menerangi dunia.

Sumber: Kompas, 21 Januari 2007

2 comments:

  1. Ketika matahari menyorot bumi di siang bolong, sebagian dari mereka berdemonstrasi mengacungkan lampu senter dan bertekad menerangi dunia.

    wow..penutup yang menukik tajam.

    ReplyDelete